Kemenkop-UKM Ajak Koperasi Manfaatkan Dana Tambahan LPDB Rp 1 T

Kemenkop-UKM Ajak Koperasi Manfaatkan Dana Tambahan LPDB Rp 1 T
Mensesneg Pastikan Tidak Ada Pengangkatan Dua Wamen Baru
Presiden: Secepatnya Berikan Bantuan bagi Koperasi dan UMKM

Kementerian Koperasi dan UKM mengajak koperasi untuk memanfaatkan fasilitas modal kerja melalui Lembaga Penyaluran Dana Bergulir (LPDB) yang baru mendapat tambahan dana Rp 1 triliun.

“Ada tambahan dana untuk LPDB Rp 1triliun. Koperasi bisa pakai dengan tenor pinjaman 6-12 bulan, maksimal per koperasi bisa Rp 50 miliar,” ujar Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki hari ini, 12 Juli 2020.

Hal itu disampaikan Teten dalam Webinar berjudul “Perubahan Era New Normal Digiltasi Memberikan Peluang Koperasi Sebagai Usaha Bersama dan Sharing Ekonomi.”

Acara tersebut digelar DPP Ikatan Keluarga Alumni Universitas Diponegoro (IKA Undip), Kementerian Koperasi dan UKM, TV Desa, dan Infinite ’88 dalam rangka Hari Koperasi 12 Juli 2020.

Dana Rp 1 triliun tersebut merupakan bagian dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bagi pelaku koperasi dan UMKM.

Sejumlah uang tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung permodalan koperasi di luar Rp 1,85 triliun yang sudah dialokasikan sebelumnya.

Menurut Teten, dana LPDB itu bisa digunakan untuk memberikan pinjaman dengan bunga rendah kepada koperasi yang dapat disalurkan ke anggota koperasi dan UMKM.

“Misalnya, kalau pinjaman PNM/Mekar berbunga 24%, kalau [dari dana PEN-LPDB itu] koperasi bisa beri bunga 12% ke anggota koperasi, atau lebih kecil, tentu lebih menarik.”

Dia menuturkan jika UMKM kuat lewat kopersi, tentu akan baik.

Teten juga berharap koperasi serta UMKM jangan takut dengan adanya dana investor yang masuk. Menurutnya, jangan semua dana investor masuk ke korporasi, tapi juga ke koperasi.

Selain itu, dia juga mendorong agar kualitas koperasi dan pengurusnya meningkat sehingga dapat bersaing dengan perbankan.

“Jangan samakan koperasi dengan perbankan, tetapi standar akuntansi, standar akuntabilitas, jangan kalah atau jangan lebih rendah daripada perbankan. Karena korporasi juga bisa.”

Selain itu, menurutnya Koperasi Mahasiswa (Kopma) juga sekarang kurang diminati, sehingga koperasi juga diharapkan tetap fleksibel dan mengikuti perkembangan zaman.

Pengembangan itu diharapkan dapat memunculkan usaha-usaha yang dapat mendukung kebutuhan anggotanya seperti mahasiswa di kampus.

Beberapa bentuk usaha, lanjutnya, adalah mengadopsi ekonomi kreatif, berjualan game, musik, pariwisata, dan hal-hal lain yang diminati kaum muda.

“Mari tingkatkan kualitas koperasi agar koperasi bisa bersaing di tingkat global.”

Terkait dengan peningkatan kualitas koperasi, Profesor Nurdiono dari Universitas Lampung (Unila) mengingatkan kualitas koperasi di dalam negeri masih sangat kurang.

“Harus contoh koperasi di Afrika dan Jepang, sangat maju. Pengelola atau pengurus harus profesional dulu. Minimal mengerti pembukuan. Cost and benefit, analisanya harus tajam.”

Koperasi, lanjut profesor, jangan hanya kumpulan orang-orang, tetapi juga kumpulan orang-orang dengan SDM yang baik.

Dia menuturkan lemahnya koperasi seperti Koperasi Unit Desa (KUD), adalah ketuanya mencari untung duluan dibandingkan dengan anggotanya.

Dia mencontohkan, dengan kualitas dan pengembangan yang baik, bahkan di Lampung ada koperasi yang memberikan fasilitas pinjaman harian tanpa bunga, hanya biaya administrasi Rp 50.000.

COMMENTS