Jelang New Normal, WIKA Optimistis Masuki Semester-II 2020

Jelang New Normal, WIKA Optimistis Masuki Semester-II 2020
Hingga Juni, Pembebasan Lahan Tol Jakarta-Cikampek II Selatan Paket 3 Capai 77%
Menteri Basuki: Revitalisasi Danau Tondano adalah Prioritas di Sulut

Sejalan dengan digulirkannya fase adaptasi kebiasaan baru, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) memiliki optimisme baru untuk mengembalikan ritme bisnisnya di tengah berbagai tantangan yang terjadi.

Tantangan itu termasuk adanya penilaian dari sebagian pihak tentang peningkatan risiko terhadap bisnis Perseroan.

Salah satu perusahaan BUMN Karya tersebut menyadari sepenuhnya bahwa Pandemi Covid-19 memberikan dampak bagi proses bisnis Perseroan.

Sehingga, Perseroan memandang perlu untuk melakukan review terhadap target-target yang semula telah dicanangkan pada awal tahun.

Beberapa kondisi makro, seperti; likuiditas keuangan yang ketat, peninjauan ulang terhadap anggaran pembangunan infrastruktur, dan terbatasnya arus mobilisasi sumber daya adalah sebagian dari
beberapa faktor yang berpengaruh ke bisnis di tanah air, termasuk WIKA.

Selain itu, beberapa analis terkemuka, seperti: DBS Securities, RHB Research, dan Samuel Sekuritas Indonesia masih merekomendasikan Buy untuk saham WIKA dengan upside rata-rata 25%.

Hal ini menunjukkan bahwa WIKA masih memiliki kapasitas untuk tetap tumbuh ke depan.

Rasio kemampuan arus kas Perseroan untuk memenuhi kewajiban utang jangka pendek atau Debt Service Coverage Ratio(DSCR) pada kuartal I-2020 yang berhasil ditorehkan Perseroan berada pada angka 2,18x (dari minimal level covenant 1x).

Hal itu menunjukkan bahwa EBITDA Perseroan cukup untuk membayar utang berbunga yang jatuh tempo di tahun yang sama.

Pada kuartal-I 2020, analisis tingkat utang Perseroan dari tinjauan Interest Coverage Ratio (ICR) berada pada besaran 3,18x (dari minimal level covenant 2x).

Dengan demikian, proyeksi atas kemampuan WIKA untuk membayar utang berada pada ambang optimis bukan sebaliknya, menjadi kekhawatiran.

Pun halnya pada parameter kondisi gearing ratio. WIKA pada kuartal-I 2020 berada pada posisi 1,04x (dari maksimal level covenant 2,5x).

“WIKA akan menjaga rasio utang tetap sehat di bawah level covenant.” terang Sekretaris Perusahaan, Mahendra Vijaya, optimistis.

Prudent dan Konsisten di Tengah Pandemi Dalam kondisi Pandemi yang saat ini masih berlangsung, WIKA tetap akan mengedepankan asas prudential dan konsisten menjalankan aktivitas operasinya. Komitmen ini menjadi penting sebagai bagian dari membangun optimisme ke depan.

Ada beberapa hal yang menjadi dasar keyakinan itu, antara lain beberapa poin berikut.

Pertama, masih tingginya kepercayaan pemerintah terhadap WIKA yang ditunjukkan dengan adanya beberapa proyek strategis yang ditawarkan. Terbukti dengan keikutsertaan Perseroan pada beberapa tender proyek pemerintah dengan total nilai mencapai Rp15 Triliun.

Kedua, masih positifnya dukungan dari institusi-institusi keuangan nasional dan internasional bagi WIKA. Medio Juni lalu, Perseroan telah menandatangani kesepakatan kredit modal kerja dengan PT Bank Chinatrust Indonesia (CTBC Indonesia) dengan nilai Rp300 Miliar.

Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito dan Direktur Keuangan Ade Wahyu bersama Iwan Satawidinata selaku CEO CTBC Indonesia.

Kesepakatan dengan perbankan dari Taipei tersebut menunjukkan bahwa masih tingginya kepercayaan perbankan terhadap kinerja sektor konstruksi di tengah pandemi.

Ini sekaligus mendukung upaya kami untuk mengembalikan ritme pembangunan proyek infrastruktur sejalan dengan pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru.

Dengan demikian infrastruktur yang dibangun bisa segera memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” ungkap Mahendra Vijaya.

Poin ketiga yang memperbesar keyakinan Perseroan pada masa pandemi ini adalah kapasitas kontrak dihadapi Perseroan yang nilainya relatif besar. Hingga Mei 2020, Perseroan memiliki order book sebesar Rp80,71 Triliun yang masih bisa diproduksi hingga tahun 2022.

“WIKA memiliki rekam jejak yang kompetitif-efektif dalam menyelesaikan proyek-proyek strategis berskala mega. Kuncinya adalah mempercepat penerimaan arus kas operasi yang lebih baik sehingga menjaga likuiditas Perseroan.” pungkas Mahendra.

COMMENTS