Jubir Presiden Bahas Pendidikan di Fase New Normal Bareng Dua Rektor

Jubir Presiden Bahas Pendidikan di Fase New Normal Bareng Dua Rektor
Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Faskes & Karantina Pasien Covid-19
Presiden: Jangan Tergesa, Pastikan Vaksin Covid-19 Aman dan Efektif

Salah satu kunci sukses menjalankannya ialah kedisiplinan di dunia pendidikan dalam menerapkan protokol kesehatan sebagai pola adaptasi perilaku.

Hal tersebut mengemuka dalam Web seminar (webinar) ”Pendidikan Karakter dan Pembelajaran Digital di Era New Normal” yang diadakan oleh Forum Kampung Bahasa Sulawesi (FKBS), Selasa (16/6) sore.

Kedisiplinan belajar-mengajar yang menantang setelah pandemi Covid-19 merupakan bagian dari fokus pemerintah Indonesia saat ini yaitu pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul melalui pendidikan karakter. Namun, terjadinya pandemi bukan berarti menghalangi pembentukan SDM Indonesia yang unggul.

Acara Webinar www.fkbs.org tersebut dilaksanakan berkat kerja sama dengan beberapa institusi pendidikan. Lembaga-lembaga tersebut adalah UIN Alauddin Makassar, Kalla Business School, Sekolah Islam Athirah, Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai dan Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel.

Webinar nasional ini dihadiri oleh pembicara seperti Juru Bicara Presiden RI M. Fadjroel Rachman, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D,  dan Rektor Kalla Business School, Ir. H. Syamril, S.T., M.Pd

Fadjroel Rachman yang mengawali diskusi menyatakan bahwa Covid-19 menimbulkan efek ketidakpastian terhadap segala hal, termasuk masalah riset vaksin. Di tengah situasi ini, negara kemudian dihadapkan pada dua soal: bahaya dan peluang.

Beliau menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo tidak hanya melihat pandemi ini sebagai bahaya tapi tentu ada peluang untuk membangun sektor-sektor lain, salah satunya ialah sektor digital.

Menurut Fadjroel, salah satu tantangan kita saat ini adalah tumbuh suburnya hoax di tengah situasi kritis.

“Hadapi hoax dengan kritis. Lakukan upaya menyeleksi, memahami, mengkritisi, dan mengevaluasi, agar hoax tidak menjangkit di masyarakat. Ini bisa menumbuhkan kepanikan kepada diri kita dan orang-orang di sekitar kita,” pesannya.

Terkait Kenormalan Baru, Fadjroel mengatakan hal ini merupakan jalan alternatif bagi masyarakat agar dapat melanjutkan hidup.

“Tantangan yang sedang dihadapi dalam menjalaninya ialah kesadaran masyarakat tentang protokol kesehatan dan kemampuan literasi media masyarakat terhadap Covid-19 yang belum merata,” ujar Fadjroel.

Sementara itu, Rektor UIN Alauddin Makassar, Hamdan Juhannis membenarkan penjelasan Fadjroel. Tidak hanya keburukan, ia menjelaskan bahwa Covid-19 juga membawa hikmah positif. 

“Salah satu contohnya cara baru bersilaturrahmi, yaitu berbasis IT. Covid-19 membawa masalah, tapi lebih dari itu, membawa pula inovasi dan akselerasi yang lebih canggih dari sebelumnya,” jelas Guru Besar Sosiologi Pendidikan ini.

Ia melanjutkan bahwa Covid-19 ini mengajarkan beberapa karakter dasar manusia yang sebetul-betulnya. Manusia jadi lebih peduli terhadap sesama dan lebih menjaga kebersihan diri serta lingkungan.

Mewabahnya virus ujar Hamdan, seharusnya membuat masyarakat untuk meninjau ulang pendidikan karakter. Ia mengemukakan tiga poin ini dari pendidikan karakter yang wajib dipenuhi oleh setiap orang yaitu nilai kedisiplinan dan pola hidup bersih, kedua konsistensi atau tidak mudah terombang-ambing dan ketiga daya tahan tak lekang oleh zaman.

“Pendidikan karakter sangat mungkin juga kita dapatkan dari agama dan adat istiadat kita. Kesadaran ini yang perlu dibangun mulai dari lingkungan terkecil (keluarga),” jelasnya.

Pemateri berikutnya, Rektor Kalla Business School, Syamril menjelaskan ada empat hakikat pendidikan yang dapat menjadi tempat pembentukan karakter. Yaitu pendidikan dari rumah, pendidikan dari sekolah (formal) dan masyarakat, tiga wiyata mandala dan keempat semua bisa menjadi guru.

Menurutnya yang terjadi selama ini ialah orang tua terlalu mengandalkan sekolah, dan sekolah kurang melibatkan orang tua. “Ini merupakan jurang yang memutus konektivitas asupan pendidikan bagi anak,” jelasnya.

Syamril lalu melanjutkan menurut World Economic Forum ada 10 keahlian yang yang paling dibutuhkan di abad sekarang. Kemampuan nomor satu yang paling dibutuhkan ialah complex problem solving.

“Kemampuan ini membutuhkan karakter dan pengetahuan yang kuat tidak hanya bisa diperoleh secara formal, melainkan juga bisa secara informal.” jelasnya.

Pandemi Covid-19 mengubah empat pola kehidupan lama menjadi seperti saat ini. Seperti masyarakat menjadi lebih empati terhadap nasib orang lain. Penyebaran virus yang semakin cepat juga memaksa semua orang untuk menetap di rumah untuk bekerja, belajar dan bermain.

Karena mobilitas fisik dibatasi, maka segalanya menjadi go virtual. Kehidupan di era pandemi ini juga membalik piramida Maslow yang sebelumnya setiap orang mengutamakan aktualisasi diri.

“Sekarang ini justru yang terpenting adalah makan, kesehatan fisik, dan keamanan jiwa-raga,” ujarnya.

Di menit-menit akhir, Syamril menunjukkan strategi pembelajaran baru yang ia terapkan di Sekolah Islam Atirah kepada para peserta. Ia menunjukkan bagan-bagan pengaturan jadwal, alur dan target yang harus dipenuhi.

Satu hal baru yang dilakukan juga ialah dengan mengurangi jumlah tugas dan waktu belajar hanya dua jam.

“Sisanya, siswa diarahkan ke hal-hal yang dapat membangun karakter, spiritualitas dan kecerdasan emosional,” pungkas Syamril.

Webinar FKBS College ini diikuti oleh 1000 peserta dari berbagai daerah dan profesi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program sosial FKBS. FKBS yang bergerak dalam sosial bisnis ini juga mengadakan kelas Bahasa Inggris gratis kepada kalangan tidak mampu serta kelas reguler untuk umum.

COMMENTS