Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri Resmi Dibuka Hari Ini, Dirjen Vokasi Minta Pelajar Memilih Sesuai Passion

Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri Resmi Dibuka Hari Ini, Dirjen Vokasi Minta Pelajar Memilih Sesuai Passion
Pemeriksaan Kedatangan Internasional Diperketat, Cegah Varian Baru Sars Cov-2
Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman Sebelum Diberikan ke Masyarakat

Selasa, 19 Mei 2020, Jalur Seleksi Bersama Masuk Politeknik Negeri (SBMPN) telah resmi secara daring oleh Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto. 

Sebanyak 42 politeknik negeri dari seluruh wilayah Indonesia berpartisipasi dalam SBMPN tahun ini. Jalur SBMPN 2020 membuka kuota sekitar 40 persen dari sekitar 46 ribu kursi yang tersedia di politeknik negeri Indonesia.

Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri, Agus Indarjo menyampaikan terjadi tren kenaikan setiap tahun dari calon mahasiswa politeknik negeri dari lulusan SMA/SMK dan sederajat.

“Terjadi peningkatan yang luar biasa peminat calon mahasiswa di perguruan tinggi (PT) vokasi. Di beberapa negara industri maju seperti Jerman dan Australia, jumlah mahasiswa vokasi jauh lebih tinggi dari pada mahasiswa jalur akademis,” jelas Agus Indarjo.

Menurut Agus, peluang pendidikan tinggi vokasi masih sangat besar karena jumlah pendaftar masih sangat sedikit. Angka pendidikan vokasi masih di bawah dari 15 persen. Ini merupakan kesempatan bagi pendidikan tinggi vokasi negeri.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Vokasi SBMPN Wikan Sakarinto mengharapkan agar pendidikan tinggi vokasi terus melakukan inovasi dan juga sinergi dengan dunia industri dunia usaha (DIDU).

“Harus terus melakukan inovasi. Link and match harus terus menerus ditingkat. Harus makin ‘menikah’ dengan DIDU,” ujar Wikan.

Wikan menjelaskan ‘penikahan’ pendidikan vokasi dan industri dapat dilakukan dalam berbagai bentuk; kolaborasi kurikulum, mengundang pakar industri sebagai dosen tamu, kerja sama pendidikan, hingga penyerapan tenaga kerja.

Dirjen Vokasi juga mengharapkan kerja sama antara pendidikan tinggi vokasi dan dunia industri tidak bersifat jangka pendek saja untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

“Pendidikan tinggi vokasi harus mampu menentukan bersama DIDU blended yang visoner terkait kompetensi masa depan. Tidak hanya masa pendek 5 tahun tapi juga jauh hingga 10 tahun ke depan,” tuturnya.

Selain kerja sama dengan industri, Dirjen Vokasi juga menitipkan pesan kepada calon mahasiswa untuk memilih program studi nantinya sesuai dengan passion atau renjana.

Wikan berpesan, “Anak muda jangan sekedar cari ijazah. Berani jujur masuk (pendidikan tinggi) karena passion, bukan karena bangga masuk kampus yang sedang tren … Jadilah profesional yang kompeten dan mencintai pekerjaan. Memilih prodi sebaiknya harus sesuai passion dan visi jelas. Mau jadi apa, bidang pekerjaan apa, pilihlah yang membahagiakan. Jangan hanya ikut teman dan pilihan orangtua.”

COMMENTS