Istilah New Normal Resmi Diubah Menjadi Kenormalan Baru

Istilah New Normal Resmi Diubah Menjadi Kenormalan Baru
Presiden Jokowi Beri 4 Arahan untuk Protokol Tatanan Normal Baru
Gubernur Jawa Tengah Tinjau Kesiapan New Normal Pabrik Rokok di Kudus

Dewasa ini, kata ‘new normal’ menjadi populer di Tanah Air di tengah pandemi COVID-19. Namun, istilah new normal kini telah diubah menjadi ‘kenormalan baru’. Istilah kenormalan baru ini telah dibakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menguraikan bahwa istilah kenormalan baru memiliki arti keadaan normal yang baru atau belum pernah ada sebelumnya. Badan Bahasa pun memberi contoh terkait penggunaan istilah tersebut.

“Pandemi korona mengharuskan masyarakat beradaptasi dengan kenormalan baru, seperti memakai masker ketika keluar rumah, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik ketika berada di tempat yang ramai,” tulis Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam unggahan di akun media sosialnya saat menginfokan padanan kata dari istilah new normal.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi sekaligus Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman mengajak masyarakat untuk menggunakan istilah kenormalan baru. Hal tersebut disampaikan Fadjroel dalam cuitan di akun Twitter pribadinya.

“#KenormalanBaru adalah istilah yang dibakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI untuk padanan kata asing ‘new normal’. Mari kita gunakan bersama-sama,” kata Fadjroel Rachman lewat akun Twitternya, Kamis (28/5/2020).

Sehubungan denan kenormalan baru, Presiden Jokowi juga telah meminta jajarannya untuk melakukan sosialisasi secara masif terkait protokol adaptasi ke new normal. Menurut Presiden, apabila dilakukan secara disiplin, kurva terkait Covid-19 bisa menurun.

“Saya minta protokol adaptasi dengan normal baru ini, yang sudah disiapkan Kemenkes, disosialisasikan secara masif ke masyarakat, sehingga masyarakat tahu apa yang dikerjakan,” kata Presiden Jokowi dalam telekonferensi, Rabu 27 Mei 2020.

Protokol tersebut di antaranya adalah menjaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan, dan menerapkan larangan berkerumun.

“Kalau sosialisasi secara masif, saya yakin kurva R0 dan Rt bisa diturunkan, bisa kita lihat di beberapa provinsi, bisa kita kerjakan,” jelasnya.

Selain itu, Presiden juga meminta jajarannya mengecek kesiapan setiap daerah untuk melaksanakan standar kenormalan baru. Apabila kurva penularan masih tinggi, Kepala Negara meminta agar TNI-Polri menambah pasukan ke lokasi.

“Dalam rangka persiapan normal baru, minta tolong dicek, tingkat kesiapan setiap daerah dalam mengendalikan virus, untuk daerah yang kurva masih naik, saya minta Gugus Tugas, Panglima TNI, dan Kapolri, Jawa Timur misalnya, kita tambah bantuan pasukan, aparat di sana agar bisa menekan kurvanya agar tidak naik lagi,” paparnya.

Selain penambahan pasukan, Presiden Jokowi juga meminta dilakukan pengujian sampel dan pelacakan secara masif terhadap PDP dan ODP Covid-19.

COMMENTS