“Buying Time” dan Mudik di St Louis

“Buying Time” dan Mudik di St Louis
HUT RI ke-75: Ikuti Lomba Tebak Busana Adat Presiden dan Ibu Negara
Kartu Prakerja Hanya Hentikan Paket Bundling

Cuaca panas amat menyengat di Philadelphia, kota terbesar di negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat (AS). Hari itu meski panas terik namun di jalanan kota tampak pawai besar-besaran. Kegiatan bernama Pawai Liberty tetap dihadiri ribuan orang.

Pawai Liberty ialah prosesi patriotik dari para tentara, pramuka, marching band maupun pejabat lokal. Sepanjang dua mil para pejabat kota duduk berkumpul di pusat kota dengan trotoar yang dipenuhi ribuan warga yang menonton.

Kepulan asap dimana-mana. Para tentara yang kembali dari perang dunia pertama disambut suka cita, mereka diarak dan dielu-elukan sebagai pahlawan. Hari itu di akhir tahun 1918 bersamaan dengan suka cita mereka tidak sadar, gelombang flu paling mematikan telah tiba di pantai Amerika. Bersamaan dengan gelombang laut yang membawa kapal-kapal perang mereka.

Kini setelah seratus tahun masih banyak yang tidak sadar, Flu Spanyol yang menjangkiti hampir 500 juta warga dunia itu menyimpan pembelajaran berharga. Di titik ini warga dunia tidak pernah benar-benar belajar menghadapinya.

Virus yang oleh masyarakat Afrika anggap sebagai kutukan dan penyakit setan ini, menyebar pertama kali di AS setelah dibawa oleh para tentara yang pulang dari Eropa. Mahluk renik itu kemudian menginfeksi masyarakat sipil di seluruh negara bagian AS dalam kurun waktu beberapa bulan saja.

Seorang peneliti George Dehner dalam bukunya Global Flu and You: A History of Influenza, menulis tidak ditemukannya vaksin dan penyebab dari wabah kala itu membuat walikota dan pejabat kesehatan di AS dibiarkan berimprovisasi.

Wilmer Krusen, direktur kesehatan masyarakat Philadelphia sebelum pawai meyakinkan pejabat publik bahwa tentara yang terinfeksi flu berat hanya terkena flu musiman. Ia merekomendasikan tetap menggelar pawai pada 28 September. Hal yang paling disesali Krusen selama hidupnya. Dalam tempo sehari saja, ribuan warga kota terjangkit virus yang belum ada obatnya itu.

Jika rakyat Philadelphia tetap mengadakan pawai dan abai, warga di kota St Louis di negara bagian Missouri, justru melakukan sebaliknya. Mereka memutuskan untuk membatalkan pawai yang dilakukan untuk menghargai pahlawan perang itu.

Tidak hanya melarang berkumpul di keramaian, pemerintah St Louis juga melarang warganya untuk keluar kota dan bertemu keluarga di daerah pedalaman. Instruksi ini diikuti dengan kesadaran tinggi oleh warga St Louis.

Ketika pandemi telah berakhir, Flu Spanyol dilaporkan telah menewaskan sekitar 675.000 orang Amerika dan 50 juta orang di seluruh dunia. Kota-kota AS jadi salah satu yang terburuk. Di Philadelphia, sebulan setelah pawai, lebih dari 10.000 orang meninggal dunia. Sementara di St Louis warga yang meninggal “hanya” di kisaran angka 700 orang. Dilaporkan, angka ini sempat meledak setelah pemerintah membuka karantina wilayah yang terlalu cepat.

Perbedaan jumlah kematian di Philadelphia dan St Louis menjadi bahan studi kasus yang semestinya diingat oleh dunia. Langkah tepat yang dilakukan pemerintah St Louis bersama warganya membuat mereka selamat dari ancaman mematikan virus itu.

Bukan saja, langkah strategi sosial seperti menjaga jarak untuk mengatasi wabah ini. Tapi mereka bersama-sama mengendalikan laju manusia ke luar kota, melarang “pulang kampung” sehingga angka warga yang terpapar bisa ditekan dan dikendalikan dalam satu kota.

Beberapa tahun setelah virus Spanyol ini mereda, riset tentang kota-kota di AS semakin memperlihatkan tingkat kematian yang lebih rendah serta rendahnya kerugian ekonomi pada wilayah yang membatasi laju manusia.

 Jaga jarak dan berada di rumah menjadi salah satu jurus paling mumpuni yang ditemukan untuk “menangkal” virus ini saat belum ada obat yang ditemukan untuk mengatasinya.

Dehner dalam tulisannya mengungkapkan, tindakan pencegahan St Louis telah mampu meratakan kurva dan mencegah epidemi flu agar tidak meledak secara cepat di seluruh wilayah seperti di Philadephia.

“Ini adalah kasus baru yang begitu banyak dan benar-benar melebihi kapasitas sebuah kota,” ujarnya.

Apa yang dilakukan warga St Louis kini dikenal sebagai karantina wilayah. Seluruh tempat umum dan pergerakan manusia dari wilayah epicentrum wabah dibatasi dan bahkan dilarang.

Menanti Babak Baru Pulihnya Ekonomi Indonesia

Sebuah laporan dari tim yang menganalisa karantina wilayah di kota-kota AS pada 1918 menemukan kota-kota yang menerapkan langkah lebih ketat tidak hanya mencegah kematian namun juga mengalami perbaikan ekonomi yang lebih cepat dibanding kota lain.

Satu abad setelah Flu Spanyol kita kembali menghadapi virus serupa. Jika virus Spanyol berasal dari burung, maka Covid-19 berasal dari kelelawar.

Di Indonesia kita melihat bagaimana pemerintah berusaha bergerak cepat. Presiden Jokowi melalui Menteri Kesehatan telah menyetujui penerapkan Peraturan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah.

PSBB hampir sama dengan karantina wilayah ala St Louis, warga dilarang berkerumun, wajib menggunakan masker, serta pembatasan pergerakan orang dan barang menggunakan moda transportasi. Teranyar presiden melarang warga yang ber-KTP Jakarta untuk mudik meski kemudian terjadi perdebatan terkait istilah ini.

Daerah pertama yang mendapat ijin menggelar PSBB ialah DKI Jakarta. Dari data yang ada pada 27 April presentase pertumbuhan secara harian memberi dampak yang signifikan. Sepanjang 12 Maret-10 April rata-rata kenaikan kasus harian adalah 15,36%. Pada 11-17 April reratanya menjadi 4,53%.

Namun, masalah berikutnya ialah terjadi penurunan di sector ekonomi. Diperkirakan 75% perekonomian Jakarta akan terhenti. Nilainya mencapai Rp.70,86 triliun atau laju Pendapatan Domestik Bruoto (PDRB) berkurang 2,78 poin presentase.

Secara nasional tentu ini berdampak pula, lau perekonomian yang melambat mengakibatkan banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dua sector yang paling terpukul ialah perdagangan dan industry.

Laporan dari Disnakertrans Jakarta menyebut ada sekitar 230 ribu warga Jakarta yang melaporkan dirumahkan dan mengalami PHK. Sementara secara nasional sudah ada sekitar 2 juta warga yang terkena PHK.

Saya melihat hal inilah yang turut ditakutkan pemerintah pusat, ketika kebijakan karantina wilayah dilakukan maka akan memukul ekonomi. Mata rantai ekonomi pun satu persatu terlepas.

Meskipun ekonomi tidak akan membunuh secepat Covid-19 namun dampaknya bisa lebih besar ketika masyarakat dan keluarganya kelaparan di tengah pandemi ini.  

Belajar dari pandemi Flu Spanyol yang melanda selama dua tahun yakni 1918-1919, korban terbesar yang meninggal ialah masyarakat bawah yang standar gizinya sangat rendah, dan pola hidup yang kurang baik.

Penurunan gizi disebabkan factor ekonomi yang terdesak, selain itu jika suatu wilayah melaksanakan karantina yang ketat maka dipastikan pergerakan manusia dari epicentrum atau pusat pandemi akan terjadi,. Apalagi kondisi social budaya masyarakat Indonesia yang berbda, kita punya tradisi pulang kampung jelang lebaran. Apesnya  bulan itu diperkirakan menjadi fase puncak penularan covid-19 di Indonesia.

Mari memercayakan penanganan covid-19 kepada pemerintah. Sebagai warga negara yang baik kita harus patuh dan tunduk dengan aturan yang ada, kita baru dapat mengambil kesimpulan tentang kebijakan efektif tiga bulan sejak pemberlakuan PSBB dan larangan mudik.

Tiga bulan ke depan menjadi saat yang tepat untuk menghentikan PSBB serupa dengan hasil riset beberapa pakar bahwa butuh waktu 12 minggu untuk menurunkan kurva dan melewati fase puncak dari sebuah pandemi.

Saya percara presiden Jokowi dan jajarannya akan menerapkan yang terbaik. Mereka tentu melakukan segala perencanaan dengan matang sebab memang harus hati-hati dan bertahap.

Perlu upaya buying time agar kita mampu bertahan selama mungkin agar ekonomi seluruh wilayah tidak ambruk sekaligus.  Kita perlu waktu karantina selama 3 bulan untuk mengembalikan seperti sedia kala.

Membuka karantina wilayah sebelum tiga bulan masih sangat riskan. Sebab gelombang kedua bahkan ketiga wabah ini bisa saja datang kembali seperti kasus Flu Spanyol, Virus Asia dan Virus lain yang pernah terjadi.

Kita melihat China kini membuka karantina bukan karena wabahnya sudah beres tapi karna ekonominya sudah mulai goyah kawan-kawan.

Percayalah mari kita berpegangan tangan, memperkuat persatuan dan kesatuan. Hindari caci memaki, saatnya berdiri sambil memberi support pada mereka yang berjibaku melawan pandemi ini. Termasuk kepada para buruh yang tetap bekerja dan menjadi garda terdepan menjaga perekonomian negara tidak ambruk. Mereka yang rela tetap tinggal bekerja dan menolak pulang kampung adalah pahlawan bangsa. Selamat hari buruh.

Akhmad Dani

Penulis adalah wartawan dan pegiat media sosial.

COMMENTS