Surat Utang RI 50 Tahun Terbit, Pelaku Pasar: Itu Gerak Cepat

Surat Utang RI 50 Tahun Terbit, Pelaku Pasar: Itu Gerak Cepat
Menko Perekonomian: 132 Juta Orang Miskin dan Tidak Mampu adalah Peserta BPJS Kesehatan Gratis Setara Kelas 3
PUPR Rampungkan Jembatan Gantung, Palopo-Toraja Terkoneksi Lagi

Baru-baru ini pemerintah menerbitkan tiga seri obligasi global (global bond) berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) dengan total US$ 4,3 miliar untuk mendanai stimulus di tengah pandemi COVID-19. Salah satu dari global bond tersebut memiliki tenor terpanjang yang pernah diterbitkan pemerintah, yakni 50 tahun.

Chief Economist and Director for Investment Strategy PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan melalui penerbitan global bond, pemerintah bergerak cepat mengemban amanah Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang nomor 1/2020 yang antisipatif dirancang untuk situasi terburuk.

“Kami menilai rightly priced mengikuti obligasi korporasi AS berperingkat BBB (US BBB corporate bond). Apalagi lingkungan eksternal membaik setelah the Fed membeli “fallen angelhigh yield corporate debt, sehingga terus menurunkan risiko kredit korporasi (corporate credit risk) yang menjadi biang rush for cash dan pelemahan rupiah,” kata Budi dalam analisisnya, Selasa (14/08/2020), kutip CNBC Indonesia.

Valuasi global bond itu selayaknya dievaluasi setelah membandingkan selisih yield (yield spread) antara SBN terhadap T-bond dengan yield spread serupa untuk negara atau perusahaan berperingkat dan bertenor setara. Budi menilai global bond tersebut dinilai dengan tepat (rightly priced) terutama bila memasukkan faktor kecemasan risiko suplai (supply risk) yang sejalan dengan defisit anggaran yang lebih besar.

Adanya kecemasan terhadap wabah COVID-19, SBN global Indonesia bertenor 10 tahun dinilai seperti corporate bond Amerika Serikat berperingkat BBB. Berbeda jika dibandingkan adanya pandemi ini, di mana yield spread SBN Indonesia lebih rendah yang menunjukkan kasta yang lebih tinggi.

Yield spread corporate bond memang menurun signifikan setelah Kamis lalu the Fed membeli junk-bond. Jadi kini ada peluang cuan investor yang berpartisipasi membeli SBN global ini,” katanya.

Budi menegaskan yang terpenting adalah menggunakan global bond ini untuk meningkatkan produktivitas, sehingga memacu pertumbuhan ekonomi yang memperkuat kapasitas Indonesia. Meski demikian, dia mengakui penerbitan SBN memicu kekhawatiran di berbagai pihak, namun keliru memproyeksikan trauma berutang pada level pribadi menuju tataran negara.

“SBN adalah investasi yang menawarkan keuntungan tinggi tetapi rendah risiko (high return but low risk). Maksudnya risiko gagal bayarnya rendah, sementara imbal hasilnya lebih besar dari deposito bahkan total returnnya lebih tinggi ketimbang investasi saham termasuk syariah,” katanya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya mengatakan penerbitan global bond dalam mata uang dolar ini dilakukan untuk menjaga pembiayaan aman sekaligus menambah cadangan devisa bagi Bank Indonesia. Pemanfaatan dari penerbitan ini sangat positif di tengah turbulensi pasar keuangan global.

Adapun global bond Seri RI1030 memiliki tenor 10,5 tahun yang jatuh tempo pada 15 Oktober 2030 diterbitkan sebesar US$ 1,65 miliar dengan yield global sebesar 3,9%. Seri kedua yaitu RI1050 dengan tenor 30,5 tahun atau jatuh tempo 15 Oktober 2050. Nominal yang diterbitkan juga US$ 1,65 miliar dengan yield 4,25%.

“Ini adalah penerbitan terbesar dalam US bond dalam sejarah RI. Dan Indonesia juga jadi negara pertama yang menerbitkan obligasi pemerintah (sovereign bond) sejak pandemic COVID-19 terjadi,” kata Sri Mulyani.

Moody’s Investors Service (Moody’s) menetapkan peringkat utang Baa2, atau layak investasi (investment grade), bagi Surat Utang Negara (SUN) yang bakal diterbitkan di luar negeri untuk membantu mengatasi dampak krisis COVID-19. Prospek (outlook) surat utang tersebut diganjar dengan predikat stabil untuk jangka panjang.

COMMENTS