Sudah 203.000 Debitur Keringanan Kredit Pembiayaan Disetujui

Sudah 203.000 Debitur Keringanan Kredit Pembiayaan Disetujui
Pemerintah Upayakan Perluasan Basis Pajak dan Optimalkan PNBP pada 2021
Satgas: PEN Diharapkan Jadi Stimulus bagi Sektor Swasta

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengatakan, sejak masyarakat diperbolehkan restrukturisasi kredit, ada 583 ribu debitur yang mengajukan restrukturisasi kepada perusahaan pembiayaan.

Ketua APPI Suwandi Wiratno mengatakan, 183 perusahaan pembiayaan atau leasing terus memonitor debitur yang mengajukan restrukturisasi, terdapat kurang lebih 583 ribu debitur yang mengajukan restrukturisasi.

“Dengan jumlah kontrak permohonan yang masih proses kurang lebih 358 ribu dan sudah disetujui sebanyak 203 ribu. Situasi ini terus berjalan dan kami terus melakukan pendataan setiap hari, dan melaporkannya kepada OJK [Otoritas Jasa Keuangan],” jelas Suwandi dalam video conference, kutip CNBC Indonesia, Selasa (28/4/2020).

Suwandi pun berharap, seluruh otoritas, baik OJK, perbankan, dan industri pembiyaan lainnya untuk meluruskan apa yang dimaksud dari himbauan Ketua DK OJK Wimboh Santoso dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai diperbolehkannya penundaan bayar cicilan atau restrukturisasi kredit.

Pasalnya, kata dia, saat ini banyak masyarakat yang menyalahartikan pesan yang restrukturisasi kredit tersebut.

“Masyarakat multitafsir, […] yang paling populer adalah tafsiran dari masyarakat boleh libur cicilan selama satu tahun. Padahal dalam POJK 11/2020, maksimal satu tahun itu maksudnya adalah konsep-konsep restrukturisasi itu sendiri, yaitu penurunan bunga, perpanjangan janka waktu, pengurangan tunggakan pokok utang , dan sebagainya,” kata Suwandi.

Hal itu akhirnya membuat likuiditas perusahaan rentan terganggu, jika seluruh debitur mengajukan pelonggaran di tengah penyebaran covid-19. Pasalnya, pendapatan perusahaan pembiayaan hanya berasal dari pembayaran buang dan arus kas dari pembayaran pokok utang.

Jika banyak debitur yang mengajukan untuk menunda pembayaran cicilan atau hanya dibayar bunga, tapi leasing masih masih harus membayar bunga dan pokok utang kepada perbankan, Suwandi mengaku, leasing sudah pasti mengalami kesulitan likuiditas.

“Restrukturisasi ini adalah tantangan tersendiri dan bagaimana tantangan ke depannya untuk memberikan pinjaman-pinjaman yang baru. Cukup banyak saat ini, 80% perusahaan pembiayaan yang melakukan stop lending [memberikan pinjaman]”.

“Ada yang hanya berhenti melakukan pinjaman hanya karena ingin, tapi banyak juga khawatir jika memberikan pinjaman lagi, debiturnya mengklaim terkena dampak dan akan jadi macet kembali dan minta untuk direstrukturisasi,” tuturnya.

Masalah lainnya, perusahaan pembiayaan diberhentikan pinjaman oleh perbankan. Padahal masih ada plafon yang tersedia untuk menarik kreditnya.

“Ini situasi di mana kita harus melihat posisinya. Jika ingin recover terhadap ekonomi. Sebaiknya bukan hanya memikirkan hari ini restrukturisasi dengan proses yang baik. Tapi likuiditas juga tersedia buat perusahaan pembiayaan. Jika tidak, ada domino effect yang berat di perusahaan pembiayaan,” tuturnya.

COMMENTS