Investor Hindari Risiko, Obligasi Indonesia Diburu

Investor Hindari Risiko, Obligasi Indonesia Diburu
Minat Investor Naik, Permintaan Lelang Obligasi Pemerintah Cetak Rekor Tertinggi ke-2
Pengerjaan 73 %, Bendungan Kuwil Kawangkoan Akan Rampung Agustus 2021

Harga obligasi rupiah pemerintah Indonesia pada hari ini, Selasa (21/4/2020) menguat di tengah penghindaran aset berisiko (risk aversion) investor setelah harga minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) anjlok ke teritori negatif.

CNBC Indonesia melaporkan harga minyak mentah WTI untuk kontrak berjangka bulan Mei turun di bawah nol atau minus US$ 37,63 per barel karena pasokan yang berlebih dan kurangnya fasilitas penyimpanan serta kekhawatiran tentang prospek permintaan energi.

Apresiasi harga obligasi pemerintah senada dengan penguatan yang terjadi di pasar surat utang negara maju dan berkembang, kendati variatif.

Data Refinitiv menunjukkan penguatan harga surat utang negara (SUN) itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark). Keempat seri tersebut adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat hari ini adalah FR0081 yang bertenor 5 tahun dengan penurunan yield 15,2 basis poin (bps) menjadi 7,238%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield menjadi acuan keuntungan investor di pasar surat utang dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) juga naik. Indeks tersebut menguat 0,64 poin (0,24%) menjadi 266,78 dari posisi kemarin 266,14.

Penguatan di pasar surat utang hari ini tidak senada dengan pelemahan rupiah di pasar valas. Pada Selasa (21/4/2020), Rupiah melemah 0,16% dari penutupan sebelumnya. Kini US$ 1 dibanderol Rp 15.400/US$ di pasar spot.

Selain itu, pada Selasa ini, pemerintah melakukan lelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan target indikatif Rp 7 triliun. Permintaan yang masuk senilai Rp 18,84 triliun, dan pemerintah memenangkan sebesar Rp 9,98 triliun dari enam seri tersebut, mengacu data DJPPR Kementerian Keuangan.

Obligasi RI Menjadi Yang Terbaik

Apresiasi harga SUN senada dengan penguatan di pasar surat utang pemerintah negara maju dan berkembang lainnya, meski bervariasi. Di antara pasar obligasi negara yang dikompilasi Tim Riset CNBC Indonesia, SBN tenor 10 tahun menjadi yang terbaik.

Dari pasar surat utang negara maju dan berkembang terpantau bervariasi, yang mengalami kevariatifan tingkat yield. Sementara surat utang negara yang paling menguat yaitu obligasi Tanah Air dan Brasil, yang sama-sama mengalami penurunan tingakt yield 7,5 basis poin (bps).

Hal tersebut mencerminkan investor global optimis terhadap aset pendapatan tetap (fixed income) ini di tengah volatilitas pasar yang masih relatif tinggi setelah harga minyak anjlok. Sementara aksi penghindaran risiko (risk aversion) investor menjadi daya dorong tambahan.

COMMENTS