Lawan Covid-19: Liburan Saat Social Distance? No Way!

Lawan Covid-19: Liburan Saat Social Distance? No Way!
Tekanan Mereda, IHSG dan Rupiah Lanjut Menguat
Lawan Covid-19: AP II Simulasi Pengecekan Dokumen Penumpang Secara Digital

Pemerintah mengecam masyarakat yang memanfaatkan kegiatan menjaga jarak (social distancing/sosdis) guna mengurangi risiko penularan virus Covid-19, justru untuk berlibur ke luar kota dan luar negeri. Saat ini, sosdis sudah dilakukan dengan kerja dari rumah (work from home/WFH) dan belajar jarak jauh.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan kesempatan mengisolasi diri dan keluarga di rumah masih dimanfaatkan beberapa orang untuk berlibur. Pernyataan itu disampaikan di dalam pengantar rapat terbatas virus Covid-19 yang dilakukan melalui telekonferensi siang ini.

“Saya lihat (hari) Sabtu-Minggu kemarin, di Pantai Carita, di Puncak, lebih ramai dari biasanya sehingga hal ini akan memunculkan sebuah keramaian yang berisiko memperluas penyebaran Covid-19,” ujar Jokowi dalam keterangan pers (19/3/20).

Dengan liburan dan ke tempat-tempat ramai, artinya bahwa semakin memperbesar risiko penularan virus saluran pernafasan yang saat ini sudah menjadi pandemik dan belum ada obatnya tersebut.

Untuk itu, Presiden Jokowi menekankan kembali tiga hal yang harus diterapkan dalam kegiatan sosdis.

Pertama, mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Pembatasan mobilitas tersebut dilakukan guna mengurangi risiko penyebaran lebih lanjut.

Kedua, menjaga jarak. Jarak aman yang disarankan di tempat publik adalah sejauh 1 meter. Ketiga, mengurangi kerumunan dan acara yang membawa risiko penyebaran Covid-19.

Saat ini, sudah berlaku Kondisi Darurat Bencana Wabah Penyakit akibat Virus Corona hingga 29 Mei yang juga didukung oleh anjuran Presiden Jokowi untuk bekerja dari rumah bagi aparat sipil negara (ASN) dan karyawan swasta.

“Saya minta diterapkan secara ketat menjaga jarak di area publik, termasuk dalam transportasi publik, di bandara, stasiun, pelabuhan, terminal bus, untuk cegah penularan.”

Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga buka suara mengenai potensi menyebarnya Covid-19 di acara-acara keagamaan. Dia sempat mengungkit rencana kegiatan ijtimak di Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), dan penahbisan Uskup Ruteng di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dia menegaskan, acara pertemuan bisa membuat antar orang terjadi kontak langsung. Di tengah wabah Covid-19 ini, acara semacam itu sangat berbahaya, dan membuat penyebaran virus corona makin merajalela. Apalagi jika digelar dalam skala besar.

“Sudah ada bukti, pertemuan Jemaah Tabligh di Malaysia baru-baru ini, menjadi tempat rawan penyebaran virus yang mendunia ini. Apalagi pesertanya dari berbagai negara. Dalam pertemuan model ini, kita rawan tertular, juga rentan menulari orang lain,” ungkapnya, kutip CNBC Indonesia.

Terkait dengan perjalanan ke luar negeri, pemerintah melalui Menteri Luar Negeri Retno P. Marsudi menghimbau warga negara Indonesia yang beperjalanan ke luar negeri untuk secepatnya kembali ke Tanah Air.

Dia mengkhawatirkan potensi kesulitan untuk kembali ke Tanah Air jika wabah ini semakin meluas karena pembatasan perjalanan dari banyak negara yang turut mencegah penyebaran Covid-19.

Retno juga menyatakan imbauan untuk tidak ke luar negeri jika tidak mendesak.

COMMENTS