Ini Beda Rupiah dan Bank di Krisis 1998, 2008, dan 2020

Ini Beda Rupiah dan Bank di Krisis 1998, 2008, dan 2020
Masuki Musim Hujan, Waspadai Lahirnya Klaster Pengungsian
Protokol Kesehatan Harus Diterapkan Dalam Penanggulangan Bencana

Di tengah penyebaran virus corona Covid-19, tekanan ekonomi dan ekspektasi pelaku pasar turun dibandingkan dengan sebelumnya sehingga menyebabkan sentimen negatif yang membuat pasar keuangan terkoreksi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang tercatat mengalami pelemahan hingga ke level Rp 16.000-an. Hal ini disebabkan oleh penguatan dolar AS yang terus terjadi sejak pertengahan Februari lalu akibat dampak Covid-19 di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan apa yang terjadi saat ini sangat berbeda dengan krisis global 2008 dan krisis Asia pada periode 1997/1998.

“Pada krisis global bagaimana pasar keuangan AS ada Subprime Mortgage dan jadi default sehingga membuat panik di pasar AS, kemudian menjalar ke Eropa dan kita kena dampaknya,” kata Perry dalam video conference, Kamis (26/3/2020), kutip Detikfinance.

Dia menjelaskan saat ini bergejolaknya keuangan global terjadi akibat pandemik Covid 19 yang bergerak sangat cepat di Amerika Serikat (AS), Eropa dan Italia yang jumlah kasus kematiannya bahkan lebih tinggi dari China.

Virus ini telah menyebar ke seluruh negara dan membuat panik pasar keuangan global. “Pemilik dana melepas dan menjual aset keuangannya,” jelas dia.

Kondisi Rupiah dan Bank Sangat Berbeda

Perry menggaris bawahai bahwa dulu rupiah melemah hingga 8 kali lipat dan kondisi perbankan saat itu jauh lebih lemah daripada kondisi industri saat ini.

Menurut Perry jika dibandingkan dengan periode 1998 lalu, sangat berbeda. Pasalnya jika dulu dolar menyentuh Rp 16.000 dari Rp 2.500.

“Ingat dulu itu dari Rp 2.500 ke Rp 16.000 hampir 8 kali lipat. Sementara sekarang itu dari Rp 13.800 pelemahannya memang 12%, tapi jauh lebih kecil dari kondisi dulu (1998), dan juga kondisi krisis global 2008,” jelas dia.

Apalagi saat ini, kondisi perbankan nasional sudah kuat tidak seperti dulu. Dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23%. Non performing loan (NPL) 2,5% secara gross dan 1,3% secara nett.

Menurut Perry saat ini langkah ekonomi yang diambil sudah cukup baik. Mulai dari kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan (SSK).

“Seluruh dunia mengalami kepanikan. Bank sentral berupaya melonggarkan likuiditas dengan menurunkan suku bunga. Saya tidak katakan ini sudah berakhir tapi sudah lebih mereda dibandingkan 2 minggu lalu, inilah yang kita hadapi,” imbuh dia.

Dari data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dolar AS tercatat Rp 16.328 menguat dibandingkan Selasa sebesar Rp 16.486.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kondisi pasar valas di Indonesia saat ini sudah semakin membaik.

“Pasar valas semakin membaik dan penguatan makin stabil. Mekanisme berjalan baik, bid dan over nya membentuk nilai tukar yang baik,” kata Perry dalam video conference di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Dia mengungkapkan saat ini nilai tukar berada di posisi Rp 16.250 per dolar AS menguat dibandingkan posisi Senin atau Selasa lalu.

Menurut Perry yang paling penting adalah pelaku pasar baik bank, non bank, eksportir dan importir sudah menjalankan mekanisme pasar dengan sangat baik. Hal ini turut mengurangi tekanan yang ada pada nilai tukar.

Tekanan Mereda, Pasar Saham dan Obligasi Membaik

Kemudian di pasar saham, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga mengalami penguatan. Perry menyebut tekanan yang terjadi pada IHSG beberapa waktu lalu karena adanya kepanikan pada pasar keuangan global.

“Hari ini banyak saham-saham sudah berwarna hijau atau perbaikan,” jelas dia.

Perry menyebut, kepanikan yang terjadi di pasar global turut mempengaruhi kondisi pasar keuangan dalam negeri.

“Di pasar obligasi pemerintah, investor asing sudah mulai membeli SBN di pasar sekunder. Outlflow juga mengalami penurunan, ini menunjukkan jika kondisi pasar keuangan, seperti saham dan obligasi semakin membaik,” jelas dia.

COMMENTS