OJK: Ada 4 Kondisi Ini, Multifinance Boleh Restrukturisasi Pembiayaan

OJK: Ada 4 Kondisi Ini, Multifinance Boleh Restrukturisasi Pembiayaan
Badan POM Dukung Penelitian Obat COVID-19
Pemerintah Upayakan Kemandirian Energi dan Perluas Kesempatan Kerja

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberi lampu hijau bagi restrukturisasi pembiayaan debitur yang terkena dampak penyebaran virus corona SARS-CoV2, penyebab penyakit Covid-19.

Restrukturisasi pembiayaan itu dibolehkan OJK kepada perusahaan pembiayaan (multifinance) asal sudah mempertimbangkan empat kondisi, yaitu:

  1. Adanya proses dan kebijakan restrukturisasi dari pemberi pinjaman, bagi sumber pendanaan dalam bentuk executing (di mana multifinance mengambil kredit dari lembaga keuangan secara jual-putus);
  2. Adanya proses dan kebijakan restrukturisasi dari pihak pemilik dana, dalam hal penyaluran pembiayaan dilaksanakan melalui pembiayaan bersama (joint financing) dan channeling (di mana multifinance hanya menjadi agen penyaluran kredit dari bank/lembaga keuangan lain);
  3. Adanya permohonan restrukturisasi debitur yang terkena dampak Covid-19; dan/atau
  4. Adanya penilaian kebutuhan dan kelayakan restrukturisasi dari perusahaan pembiayaan.

Langkah itu disetujui OJK sebagai bagian dari kebijakan yang berusaha menstimulasi ekonomi (countercyclical) di tengah pandemik Covid-19.

Selain dari pemberian restrukturisasi pembiayaan, bentuk kebijakan countercyclical yang diambil OJK adalah:

  1. Perpanjangan batas waktu penyampaian laporan pembiayaan kepada OJK;
  2. Uji kemampuan dan kepatutan (fit & proper test) pimpinan perusahaan pembiayaan dapat dilakukan melalui video conference;
  3. Penetapan kualitas pembiayaan bagi debitur yang terkena dampak Covid-19 dengan plafon pembiayaan paling besar Rp 10 miliar, dapat didasarkan pada dua kualitas lain yakni ketepatan pembayaran pokok dan/atau bunga atau margin/bagi hasil/ujrah;
  4. Kualitas pembiayaan bagi debitur yang terkena dampak Covid-19 yang direstrukturisasi ditetapkan lancar sejak dilakukan restrukturisasi;
  5. Perusahaan pembiayaan dapat memberikan pembiayaan baru kepada debitur yang terkena dampak penyebaran Covid-19 dengan didasarkan kepada beberapa hal. Hal itu adalah analisis pembiayaan yang memdai sehingga dapat memberikan keyakinan atas itikad baik, kemampuan, dan kesanggupan debitur untuk melunasi pembiayaannya.

Kebijakan itu tertuang di dalam Surat OJK No. S-9/D.05/2020 tentang Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Corona Disease 2019 (Covid-19) Bagi Perusahaan Pembiayaan. Surat itu ditandatangani Kepala Eksekutif Pengawas IKNB OJK Riswinandi pada hari ini, 30 Maret 2020.

OJK mengambil kebijakan countercyclical mengingat bahwa penyebaran Covid-19 di dalam negeri telah berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja dan kapasitas operasional konsumen dan Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank (LJKNB).

Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu kinerja LJKNB, stabilitas sistem keuangan, dan pertumbuhan ekonomi.

Sebelumnya, kemarin (29/3/20) Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI, atau biasa disebut IFSA) menyatakan kepada nasabahnya bahwa perusahaan pembiayaan yang menjadi anggota asosiasi itu sudah membuka peluang restrukturisasi pembiayaan melalui tiga skema.

Ketiga skema itu adalah perpanjangan jangka waktu, penundaan sebagian pembayaran, dan/atau jenis restrukturisasi lainnya yang ditawarkan perusahaan pembiayaan.

COMMENTS