Yuk Simak Tradisi Hari Raya Galungan Para Umat Hindu Bali

Yuk Simak Tradisi Hari Raya Galungan Para Umat Hindu Bali
PUPR Lanjutkan Pembangunan Jalan Pintas Mengwitani-Singaraja, Bali
Kain Endek Bali Warnai Koleksi Christian Dior Spring/Summer 2021

Setiap 210 hari sekali, umat hindu Bali merayakan sebuah perayaan besar bernama Hari Raya Galungan. Selain di Indonesia, terdapat pula hari perayaan yang serupa dengan Galungan yakni Diwali di India.

Menurut penjelasan Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana, I Gede Pitana, kedua perayaan tersebut sama-sama merayakan kemenangan kebaikan (dharma) atas ketidak baikan (adharma).

“(Hari Raya Galungan memiliki) serangkaian upacara yang panjang sekali. Mulai dari 35 hari sebelum Galungan, masyarakat Bali melakukan upacara di kebun. Mereka berdoa supaya hasil kebun bagus,” jelasnya.

Upacara doa di kebun dilakukan dengan harapan hasil kebun yang bagus dapat digunakan untuk Galungan berikutnya. Pitana mengungkapkan, beberapa orang Bali memiliki setidaknya dua hingga tiga kebun. Mereka kerap mengunjungi tiap kebun untuk berdoa. Doa tersebut hanya dilakukan pada hari ke-35 sebelum Galungan. Rangkaian doa ini disebut sebagai tumpek pengatag.

Pada hari ke-6 sebelum Galungan, umat Hindu Bali juga melakukan rangkaian upacara yang bernama sugihan jawa.

“Jawa di sini artinya bukan pulau Jawa atau orang Jawa. Jawa itu artinya luar. Jadi tujuan sugihan jawa adalah upacara untuk membersihkan alam dan fisik di luar tubuh manusia,” ucap Pitana.

Umat Hindu Bali dalam upacara ini juga akan mulai membersihkan pura, mulai dari pura-pura di pedesaannya ataupun pura keluarga di pekarangan rumah masing-masing. Selanjutnya, mereka akan bersembahyang untuk menyucikan dan membersihkan diri.

Pada hari ke-3, umat Hindu biasanya akan membuat tape, kue, beberapa makanan jajanan, dan juga sesajen dengan serentak .

Lalu, hari ke-4 adalah hari kosong, sehingga mereka dapat beristirahat sejenak sebelum melakukan upacara lain di hari berikutnya.

Dua hari sebelum Galungan, umat Hindu Bali akan mulai memasang dekorasi penjor di halaman rumah dan juga di sepanjang jalan.

“Penjor itu bambu yang dilengkungkan kemudian dihias. Penjor itu lambang dari alam. Makanya penjor berisi buah-buahan, padi, hasil pertanian. Idealnya isi penjor itu hasil pertanian dari kebun yang telah didoakan,” jelas Pitana.

Hari Penampahan atau sehari sebelum Galungan, umat Hindu Bali akan mempersiapkan daging untuk upacara Galungan. Daging yang digunakan bisa daging babi, ayam, atau itik. Akan tetapi, mereka cenderung lebih memilih daging babi.

Hari Penampahan merupakan hari untuk mempersiapkan makanan. Sajian pertama yang dibuat adalah sate. Pitana menjelaskan, sate untuk upacara Galungan terdiri dari dua jenis: sate daging dan sate lilit.

Selanjutnya, hidangan yang dibuat adalah campuran sayur dengan daging yang disebut lawar. Sayur yang dibuat terdiri dari berbagai bahan mulai dari nangka, kacang-kacangan, pakis, kelapa muda, bahkan bonggol pisang.

Setiap tahunnya, Hari Raya Galungan selalu jatuh di hari Rabu. Pada saat perayaan besar tersebut tiba, mulai dari jam 7 pagi, umat Hindu Bali akan mulai bersembahyang di pura-pura milik desa.

Pada umumnya, mereka menentukan terlebih dahulu pura mana yang akan dikunjungi terlebih dahulu. Setelah selesai bersembahyang, mereka berlanjut mendatangi beberapa pura lain yang ada di desa setempat.

“Tapi biasanya yang umum sih tiga pura saja. Itu harus dikunjungi. Setiap desa adat di Bali mempunyai tiga pura utama. Pura kelahiran atau penciptaan, pura kehidupan atau pemeliharaan, dan pura kematian atau penghancuran. Setiap wilayah di Bali tidak pernah hanya punya satu pura saja, minimal tiga,” tutur Pitana.

I Wayan ‘Kun’ Adnyana selaku Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, menjelaskan, pura-pura tersebut meliputi Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem.

Pura Desa adalah pura untuk pemujaan Dewa Brahma, Pusa Puseh merupakan tempat pemujaan Dewa Wisnu dan Pura Dalem sebagai tempat memuja Dewa Siwa.

“Terkadang di desa juga ada pura yang namanya Pura Subak kalau desa memiliki sistem irigasi (pengairan sawah). Makanya setiap Galungan itu kita keliling ke setiap pura yang ada di desa,” kata Adnyana.

Setelag melakukan sembahyang di pura, para umat Hindu Bali akan pulang ke rumah masing-masing untuk lanjut bersembahyang di tempat suci yang mereka miliki.

COMMENTS