Studi Menunjukkan Ekonomi Makro yang Membaik Berdampak Positif pada Saham

Studi Menunjukkan Ekonomi Makro yang Membaik Berdampak Positif pada Saham
Neraca Perdagangan Juni Surplus US$ 1,27 M, di Atas Prediksi Pasar
Morgan Stanley dkk Sepakat UU Ciptaker Berdampak Positif ke Ekonomi

Perusahaan manajemen investasi Eastspring Investment Indonesia, meyakini kondisi makroekonomi yang membaik di tahun 2020 akan menimbulkan sentimen positif di antara pasar saham.

Selama penelitiannya di Jakarta pada hari Selasa, Eastspring Investment Indonesia mengatakan bahwa pasar memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh lima persen pada 2020, didukung oleh konsumsi domestik, meliputi rumah tangga, investasi dan pengeluaran pemerintah.

Berdasarkan penelitian tersebut, secara umum, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kondisi investasi akan membawa sentimen yang baik di antara pasar saham.

Eastpring Investment juga menyampaikan bahwa penilaian harga saham di Indonesia dibandingkan dengan pasar historis dan pasar lainnya saat ini tergolong murah sehingga menjadi daya tarik utama.

Selain itu, laba perusahaan juga diperkirakan akan tumbuh 8,1 persen di tahun ini.

“Dalam hal pendapatan tetap, daya tarik utama datang dari perbedaan besar dalam pengembalian riil Indonesia ke Amerika Serikat, terutama jika didukung oleh nilai tukar yang stabil dan inflasi. Kebijakan BI (bank sentral) juga dianggap cukup baik pada saat, pre-emptive, front-loading dan di depan kurva,” dikutip dari penelitian tersebut.

Mengenai ekonomi makro global 2020, Investasi Eastpring juga lebih optimis, didukung oleh poros dovish oleh bank sentral.

International Monetary Fund memperkirakan ekonomi dunia akan tumbuh 3,4 persen tahun-ke-tahun pada 2020, jauh lebih baik daripada 2019 dengan 3,0 persen.

Perusahaan manajemen investasi melihat tiga hal penting yang akan mendorong pasar pada tahun 2020.

Pertama, kelanjutan siklus pertumbuhan global dan pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan membaik pada tahun 2020 sehingga membatasi risiko resesi.

Ini merupakan kondisi yang menguntungkan bagi aset berisiko seperti saham, dan positif untuk sektor manufaktur serta sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

Kedua, potensi pergeseran pelonggaran moneter ke fiskal. Kebijakan moneter yang mudah dengan kebijakan suku bunga rendah akan dipertahankan hingga tahun 2020. Namun, kebijakan fiskal diprediksikan berperan lebih penting di tahun 2020, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global.

Dan ketiga, jeda perang komersial. Eastpring Investment melihat bahwa konflik tekanan perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina akan menyusut seiring dengan pencapaian perjanjian fase satu. Meski demikian, hal itu tidak menutup kemungkinan munculnya turbulensi di waktu yang mendatang.

COMMENTS