Prospek Peringkat Kredit Indonesia Dinilai Stabil oleh Layanan Investor Moody

Akhirnya, BLK Komunitas Pertama di Tahun 2020 Diresmikan
Menaker Ida: Perketat Penerapan Protokol Kesehatan di Tempat Kerja

Moody’s Investors Service atau Layanan Investor Moody telah menegaskan Peringkat Kredit Berdaulat Indonesia di Baa2, dengan prospek yang stabil.

Menanggapi pernyataan tersebut, Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia mengatakan bahwa penegasan Moody atas peringkat Indonesia ke tingkat Baa2 telah mengkonfirmasi optimisme pemangku kepentingan internasional atas prospek kinerja ekonomi Indonesia di tengah tantangan domestik dan global.

Warjiyo mengatakan bahwa prospek ekonomi yang masih positif merupakan hasil dari sinergi kebijakan yang harmonis antara Bank Indonesia dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mempromosikan momentum pertumbuhan ekonomi.

Ke depannya, Bank Indonesia akan memantau perkembangan ekonomi domestik dan global dalam menerapkan bauran kebijakan yang akomodatif guna menjaga inflasi yang terkendali dan stabilitas eksternal serta mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

Menurut Moody, faktor kunci yang mendukung afirmasi adalah tingkat pertumbuhan yang kuat dan stabil dan juga beban utang pemerintah yang rendah. Hal ini dapat dipertahankan atas disiplin fiskal yang konsisten dan penekanan pada stabilitas ekonomi makro.

Di sisi lain, Moody menyoroti beberapa tantangan yang meliputi basis pendapatan yang lemah, ketergantungan pemerintah pada pendanaan pasar eksternal, dan struktur ekonomi yang masih rentan terhadap siklus komoditas.

Menurut Moody, PDB nominal hanya lebih dari $ 1,0 triliun dan populasi lebih dari 260 juta ditambah dengan laju pertumbuhan penduduk yang kuat, mendukung kapasitas penyerapan guncangan ekonomi.

Meskipun berada dalam fase pertumbuhan yang relatif lambat, ekonomi Indonesia terus melampaui sebagian besar negara berdaulat Baa.

Moody berharap reformasi yang sedang berlangsung mampu mengatasi berbagai tantangan seperti kemacetan struktural dan ekonomi, sistem hukum dan peraturan yang memberatkan dan seringkali buram, dan pasar keuangan domestik yang dangkal. Tentunya proses ini berlangsung cenderung bertahap.

Moody mencatat bahwa selama beberapa tahun terakhir, reformasi berfokus pada pembangunan infrastruktur, khususnya konektivitas transportasi, dan deregulasi kebijakan untuk membuka investasi.

Administrasi telah memperluas prioritas ini pada pengembangan sumber daya manusia, dengan kebijakan yang diarahkan untuk mengatasi kesenjangan pendidikan maupun layanan kesehatan. Selain itu, terdapat pula fokus baru pada peningkatan kemudahan melakukan bisnis, baik melalui perubahan peraturan tenaga kerja dan pajak, serta penyederhanaan kebijakan dan prosedur.

Di sisi fiskal, Indonesia mempertahankan beban utang pemerintah yang rendah, ditopang oleh kerangka kerja kebijakan yang ditentukan dengan hati-hati dan menjaga setabilitas kemampuan makro. Moody memproyeksikan utang pemerintah tetap stabil di sekitar 30 persen dari PDB dalam jangka pendek dan menengah.

Di sisi eksternal, Moody memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan Indonesia masih tetap rendah dibandingkan dengan rekan-rekan Baa lainnya. Selain itu, buffer eksternal cukup untuk menahan beberapa tingkat guncangan, menunjukkan kecukupan cadangan yang kuat.

Sebelumnya, pada 13 April 2018, Moody telah meningkatkan Peringkat Kredit Berdaulat Indonesia ke Baa2 dengan prospek stabil, dari Baa3 dengan prospek positif (Tingkat Investasi).

COMMENTS