Perusahaan Migas Pertama Indonesia Masuk Bursa Saham Terbesar di Dunia

Presiden: Hari Habitat Dunia 2020, Momentum Refleksi Tata Kelola Perkotaan
Presiden Jokowi Tinjau Kawasan Lumbung Pangan Baru di Sumut

Citra investasi hulu minyak dan gas Indonesia kian bertambah kuat. Hal ini terpancarkan pada kepercayaan diri perusahaan migas Indonesia yang masih melantai di bursa saham.

Bukti nyata tersebut ditunjukkan oleh Indonesia Energy Corporation Limited (IEC) sebagai perusahaan pengelola tiga wilayah kerja migas yang melantai di The New York Stock Exchange (NYSE), bursa saham terbesar di dunia.

Perusahaan tersebut memang jarang muncul dalam pemberitaan migas nasional, akan tetapi, perusahaan berkode “INDO” di NYSE telah memulai perdagangan sahamnya sejak 19 Desember 2019. Pada 14 Februari yang lalu, IEC baru saja menyelesaikan penawaran saham perdana.

Dalam keterangan resmi perusahaan, CEO Indonesia Energy Corporation Ltd., Wiryawan Jusuf merasa bangga terkait dimulainya jejak baru sebagai perusahaan publik nasional di Bursa Efek New York.

“Kami menantikan perjalanan ke depan dan melaksanakan rencana bisnis  untuk menumbuhkan produksi [migas] dan memberikan nilai [untuk] pemegang saham,” ucap Wiryawan dalam siaran pers yang tercantum pada situs resmi IEC.

Dalam kesempatan lain, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengaku bangga atas IEC yang melantai di Wall Street. Pencapaian IEC tersebut menjadi kebanggaan bagi Indonesia karena selain menjadi perusahaan migas pertama di NYSE, akhirnya bendera Merah Putih dapat berkibar kembali berdampingan dengan bendera Amerika Serikat bursa saham internasional tersebut.

Tiga Blok Migas IEC

IEC bertanggung jawab dalam mengelola tiga blok migas, antara lain Blok Citarum, Blok Kruh dan Blok Rangkas.

Khusus Blok Rangkas, IEC bekerja sama dengan pemerintah untuk mengidentifikasi stratigrafi serta geologi struktural daerah tersebut. Apabila joint study tersebut berhasil, maka IEC akan mendapat hak lelang langsung dari Kementerian ESDM untuk mengelola Blok Rangkas.

Sementara itu, Blok Kruh dan Blok Citarum telah berproduksi. 

Pada 2018, Blok Kruh tercatat menghasilkan minyak sebesar 9.900 barel. Tiga dari delapan struktur yang terbukti memiliki potensi minyak, memiliki cadangan minyak yang belum dikembangkan sejumlah 4,99 juta barel. Selebihnya, potensi cadangan minyak mentah yang belum dikembangkan sebesar 2,59 juta barel per 1 Januari 2019.

Indonesia Energy akan meningkatkan produksi blok tersebut dengan mengebor 18 sumur baru, serta melakukan survei seismik untuk meningkatkan cadangan dalam jangka pendek .

IEC memegang 100 persen hak partisipasi (PI) dan beroperasi di bawah kontrak bantuan teknis (Techincal Assitance Contract/TAC) Pertamina hingga Mei 2020 untuk blok minyak tersebut. Sedangkan Operatorship Blok Kruh akan berlanjut hingga 2030 dengan skema SKO.

Di wilayah Blok Citarum, Indonesia Energy menjadi operator dengan skema kontrak Gross Split hingga Juli 2048. Investasi senilai kurang lebih US$40 juta telah diluangkan Indonesia Energy Corporation untuk blok Citarum.

COMMENTS