Pertamina Kini Tak Lagi Impor Solar dan Akan Produksi Biodiesel

Pertamina Kini Tak Lagi Impor Solar dan Akan Produksi Biodiesel
Pabrik Zat Katalis Pertama Indonesia Akan Dibangun di Cikampek
Laris Manis, Pertamina Ekspor 200.000 barel Solar ke Malaysia

Dalam rapat dengar pendapat panja, Selasa (25/2/2020), PT Pertamina (Persero) menyampaikan beberapa pencapaian mereka di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi VI. Beberapa hal disampaikan oleh Nicke Widyawati selaku Direktur Utama PT Pertamina (Persero) mulai dari proyek gasifikasi, tidak lagi impor solar, serta rencana produksi B100.

Nicke menjelaskan ketergantungan Indonesia pada impor liquified petroleum gas (LPG) dinilai sangat besar, dengan angka 70%. Sementara itu, Indonesia memiliki batu bara dengan kalori rendah yang cukup sulit digunakan karena pemerintah tidak membangun PLTU dengan batu bara kalori rendah.

Melihat hal tersebut, maka batu bara dapat dijadikan peluang untuk program gasifikasi di mana produk dari gasifikasi bisa digunakan sebagai subtitusi LPG. Pihak Pertamina sudah mengkalkulasikan harga batu bata kalori rendah yang berkisar US$ 20-21 per ton.

“Pemerintah tidak bangun PLTU dengan kalori rendah, kita coal gasification, synthetic natural gas (syngas),” ujar Nicke.

Selain itu, Pertamina juga menyebutkan sejak Maret 2019 sudah tidak lagi impor solar. Kemudian, per April 2019 Pertamina juga sudah berhenti impor avtur karena kini pihaknya bisa memproduksi sendiri. Pemanfaatan crude domestik menjadi upaya menurunkan impor di tahun 2019.

“Penurunan impor 35% sepanjang 2019. Maret 2019 juga kami gak impor solar. April kita juga stop impor avtur,” jelasnya.

Berikutnya, pada pertengahan tahun 2021, Pertamina juga menargetkan akan mulai memproduksi biodiesel (B100) di Kilang Cilacap. Dengan uji coba ini, akan dibutuhkan input minyak sawit sebesar 6.000 barel per hari.

“Ini bisa membuktikan bahwa CPO kita bisa B100. CPO kita berkualitas bagus,” tutur Nicke.

Nicke menjelaskan pemrosesan CPO ke biodiesel merupakan solusi atas penolakan sawit yang dilakukan Eropa. Program biodiesel kini telah mencapai ke B30, di mana solar dicampur dengan fatty acid methyl ester (FAME) 30%.

Untuk ke depannya, Pertamina juga menargetkan program co-procesing di mana minyak sawit diinjeksikan ke kilang. “Jadi sudah nyampur ke kilang, sehingga hasilnya juga lebih bagus. Lalu, ada B100 ini CPO nya diproses di kilang menghasilakn fuel,” tambahnya.

Sementara itu, dengan menggunakan teknologi UOP biorefinery, Pertamina akan membangun untuk co-processing di Plaju dan Dumai. Teknologi tersebut juga sudah digunakan di Milan.

COMMENTS