Inilah Beberapa Produk Super Prioritas Hasil Inovasi Dalam Negeri yang Menjadi Fokus Pemerintah

LIKE PLN 2020, Banjir Inovasi Karya Anak Negeri
Presiden: Indonesia Butuh Banyak Inovator di Berbagai Sektor

Pemerintah saat ini sedang gencar mengembangkan tiga produk inovasi dalam negeri yang menjadi program super prioritas, yakni Drone, Katalis, dan Garam Terintegrasi. Tiga produk tersebut fokus dikembangkan dengan bekerja bersama dunia usaha agar hasilnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Salah satu produk pertama yaitu drone untuk keperluan militer dinamakan Elang Hitam. Presiden Jokowi ingin mempercepat rencana ini siap pada 2022, melihat kebutuhan di dalam negeri dan juga kesiapan baik dari produk desain maupun manufacturing-nya. Salah satu kebutuhannya untuk untuk keamanan dalam negeri maupun untuk konteks pertahanan terutama di daerah perbatasan.

Produk unggulan selanjutnya yakni Bahan Bakar Nabati atau green fuel yang disebut juga sebagai bahan bakar hijau. Menurut Menristek, karena katalisnya sudah ditemukan, maka tahapan berikutnya telah diberikan prioritas oleh Bapak Presiden dan didukung terutama Kementerian BUMN maupun Badan Pengelola Dana Sawit. Maka dimulailah pembangunan pabrik minyak nabati industri untuk menghasilkan minyak inti sawit dari perkebunan.

Produk ketiga terkait kesehatan, yang diutamakan adalah stem cell untuk pengobatan tulang yang sudah dihasilkan dan dikomersialkan dari kerja sama Fakultas Kedokteran Gigi (UI), RSCM dan PT Kimia Farma. Selain itu, ada pula stem cell anti-aging berupa semacam cream yang dioleskan ke kulit untuk menunda penuaan pada kulit. Selebihnya adalah implan tulang yang digunakan untuk pengganti tulang yang hilang dan dibuat dari titanium, dan didesain oleh BPPT, sudah dihasilkan oleh suatu perusahaan di Surabaya.

Berikutnya, produk lain yang diprioritaskan Presiden adalah garam industri terintegrasi dsehingga bisa dibeli dengan harga yang lebih rendah. Produk lainnya adalah makanan kaleng tanpa bahan kimia.

Terakhir adalah kapal pelat datar yang menggunakan baja tanpa fiber. Produk ini disarankan Presiden kepada Menteri KKP untuk bisa digunakan sebagai kapal nelayan karena ukuran nya yang lebih besar, biaya yang lebih murah 30% dibanding fiberglass, dan masa pembuatan yang lebih cepat.

COMMENTS