Perjalanan 10 Tahun Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

Perjalanan 10 Tahun Indeks Persepsi Korupsi Indonesia
BKPM dan Kementerian KUKM Sinergi Pengembangan UMKMK
Jokowi Kunjungi Canberra, Inspirasi Pembangunan Ibu Kota Baru Indonesia

Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia pada 2019 meningkat 2 poin dari 38 ke 40. Skala indeks 0-100, semakin tinggi nilai indeksnya, pemberantasan korupsi semakin baik.

Dengan kenaikan IPK tersebut, Indonesia menempati peringkat 85 dari 180 negara, naik dari tahun sebelumnya yakni peringkat 89 dari 180 negara. IPK tersebut dikeluarkan oleh lembaga internasional bernama Transparency International yang memiliki perwakilan di Indonesia.

Semenjak tahun 1995, Transparency International telah menerbitkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK/CPI) setiap tahun yang mengurutkan negara-negara di dunia berdasarkan persepsi (anggapan) publik terhadap korupsi di jabatan publik dan politis.

Pada 2009, Indonesia menempati peringkat 111 dari 180 negara dengan nilai indeks 28. Sepanjang 2009-2014, Indonesia terus menempati peringkat antara 100-118. Baru pada tahun 2015, Indonesia mulai mendapatkan peringkat di atas 100, yakni peringkat 88. Dan tahun 2019, menjadi sejarah baru bagi Indonesia untuk mendapatkan peringkat 85.

Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi, Syamsuddin Haris, menyatakan bahwa kritik dan tekanan dari pubik serta kelompok sipil menjadi garda penting dalam menjaga semangat pemberantasan korupsi di Tanah Air. “Pemerintah, partai politik, dan KPK harus terus ‘digonggongi'”, ujarnya saat menghadiri peluncuran IPK yang diselenggarakan oleh Transparency International Indonesia.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, dalam keterangannya menurutkan bahwa pemerintah bersyukur indeks persepsi korupsi nasional naik, “Mudah-mudahan dengan konsistensi kita bersama dalam memerangi korupsi di Indonesia, pada tahun 2020 dan seterusnya skor CPI Indonesia akan naik lagi secara signifikan.”

COMMENTS