Via Vallen, Nella Kharisma, dan Masa Depan Indonesia

Via Vallen, Nella Kharisma, dan Masa Depan Indonesia
PLN Juara Asia Selatan-Tenggara dalam Transisi Ekonomi Rendah Karbon
Presiden Jokowi dan PM Suga Kerja Sama Tangkal Pandemi hingga Ekonomi

Perjalanan ke Jogja akhir pekan lalu sungguh menggembirakan. Selain sepanjang waktu bercanda ria menikmati keindahan dan suasana khas Jogja, ini adalah perjalanan yang memberi pengetahuan baru buat saya. Bus yang mengantar kami menyuguhkan tontonan dangdut sepanjang perjalanan. Awalnya saya tak tertarik. Lama-lama lirik lagu dangdut koplo itupun menggoda saya untuk memberi perhatian. Saya pun mulai cerewet menginterogasi pemandu yang sejak awal saya perhatikan amat menikmati lagu-lagu yang disajikan.

Tak kalah, pak sopir yang sudah paruh baya ikut berdendang, hampir hafal semua syair dan larut dalam dendang yang penuh penghayatan. Keduanya dengan antusias menerangkan bahwa penyanyi cantik itu bernama Nella Kharisma, asal Nganjuk, Jawa Timur. “Tarif manggungnya sudah hampir sama dengan Via Vallen,” selorohnya meyakinkan.

Saya kembali tercekat dan mendadak merasa sangat bodoh. Nama terakhir ini cukup familiar dan saya kira seorang artis mancanegara yang sedang populer. Tak tahunya, Via Vallen adalah pedangdut yang sedang nge-hits. Jari saya pun lantas berselancar di mesin pencari, dan menemukan siapa sejatinya Via Vallen dan Nella Kharisma.

Ingatan saya akhirnya terbetot ke masa lalu, ketika menikmati hidup di dusun yang lekat dengan musik dangdut. Saya dibesarkan oleh tradisi dangdut keliling, mirip ketoprak tobong, yang pentas dari satu desa ke desa untuk menghibur dan mengais rejeki.

Dangdut adalah hiburan rakyat, karena memantulkan apa yang diinginkan rakyat: rileks, menjauhi rutinitas, berdendang dan bergoyang, dan egaliter. Dalam lautan manusia yang tersihir entah oleh musik yang kendangnya ditabuh kencang, suara penyanyi yang seksi, ataupun pakaian penyanyi yang biasanya seronok menggoda.  Bagi yang biasa menyambangi Purawisata Yogyakarta, tentu nama-nama seperti Yayuk Parabola, Oky Ardila, dan Vivien Vania adalah legenda yang bermukim di ingatan sebagian masa lalu kita.

Dangdut yang punya raja bernama Rhoma Irama pun tetap eksis dan melekat dalam denyut keseharian warga biasa. Jutaan manusia disatukan oleh sebuah keterlibatan yang fenomenal. Telah lahir banyak pedangdut top seperti Evie Tamala, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah – yang tak pandai bergoyang namun cantik dan merdu memukau. Hingga akhirnya panggung beralih kepada pedangdut yang moncer lantaran goyang, seperti Inul Daratista dengan goyang ngebor, Anisa Bahar bergoyang patah-patah, atau yang lebih belakangan Zaskia Gotik alias si empunya goyang itik. Ayu Ting Ting adalah fenomena lain yang mengabadikan tipe pedangdut cantik merdu memukau tanpa mengumbar goyang.

Selera kemudian bergoyang bak pendulum, tapi dangdut tetap abadi, tak lekang digerus arus zaman. Alih-alih tersingkir, musik dangdut justru ikut mewarnai dunia digital, termasuk menyesaki Youtube. Dangdut menjadi semacam katarsis, medan pelepasan dari seluruh kepenatan, kepura-puraan, kejaiman, dan represi moral atas nama kepatutan dan tertib syahwat. Toh dangdut yang kerap dicap rendahan dan murahan itu menjadi etalase keseharian warga yang otentik, jauh melebihi perilaku para pejabat dan politisi, termasuk agamawan sekalipun.

Dangdut pun menjadi sebentuk perlawanan sosial, sebuah baju kelas yang ingin dikibarkan sebagai ekspresi mereka yang selama ini kerap dikesampingkan, entah atas nama kemapanan ekonomi, level pendidikan, keluhuran budaya, nilai peradaban, maupun moral yang higienis. Buktinya, Via Vallen dan Nella Kharisma – dua perempuan muda dan cantik dari Jawa Timur, yang berangkat dari keluguan anak desa, toh berhasil memikat hati jutaan penggemar, entah di panggung-panggung kampung maupun media sosial seperti Instagram.

Mereka dipuja sebagai idola yang menghibur. Lirik lagu mereka tak butuh hermeneutika atau tafsir pemerhati musik untuk memahaminya. Sedemikian vulgar, to the point, tanpa butuh momen reflektif. Tapi justru di situlah kekuatannya. Lirik mereka sangat biasa, sekaligus mewakili suara-suara libidinal yang selama ini ditekan pagar superego. Simaklah lagu Nella Kharisma berjudul “Konco Mesra”, “Bojo Galak”, atau “Separo Nyowo”, atau “Penak Jamanku”-nya Via Vallen dibandingkan dengan “Ditinggal Rabi”-nya Nella Kharisma. Bahkan “Bidadari Keseleo” yang tanpa ‘tedeng aling-aling’ mengolok. Atau hits Via berjudul “Sayang” dan “Kimcil Kepolen”.

Bahasanya vulgar, kadang cukup kasar. Soal putus cinta, penipuan berbungkus asmara, pengorbanan, penyesalan masa lalu, kasih yang kandas, hingga rindu tak bertepi. Semua diekspresikan dalam bahasa Jawa sederhana. Tapi justru menyentuh dan membetot jantung orang-orang biasa yang serasa dibawa larut mengalaminya. Lagu-lagu itu mewakili perasaan dan keadaan orang-orang biasa, yang jauh dari ingar-bingar dan muslihat kaum urban. Bukan cinta sebagai bisnis asmara yang diperjualbelikan sebagai skandal yang dikemas dalam sistem pasar yang nyaris sempurna.

Dangdut kontemporer semakin menemukan rumah aktualisasinya ketika ketimpangan masih lebar, kemiskinan menjadi mantra abadi, dan politik disesaki korupsi. Namun mereka toh tak meributkan daya beli yang naik atau turun, atau terjebak orang kota yang perang angka dan kata kosong makna. Warga biasa butuh perayaan dan kanalisasi bawah sadar melalui seni. Panggung dangdut mampu menampung segalanya, hingga segala derita maupun amarah tak tumpah, melainkan disublimasi menjadi dendang dan goyang. Tak perlu merasa paling benar, paling suci, maupun paling hepi. Semuanya berhak memberi dan berbagi, larut dalam satu yang hakiki.

Via Vallen dan Nella Kharisma lahir bukan dari kontes idol di layar kaca, atau ajang festival yang kerap hanya bisa diakses orang kaya. Mereka mengawali karier dari penyanyi dusun, berpindah panggung dari satu hajatan ke hajatan lain. Merekam seadanya dan dijual bukan melalui toko-toko kaset di mal. Jika kini mereka menikmati hasil keringat, tak ayal mereka ditopang jutaan penggemar yang merasa hasrat dan jerihnya terwakili.

Meski tak perlu berharap banyak lagu dangdut mereka akan melahirkan perlawanan sosial dan revolusi, setidaknya ini mengiris satu fakta tentang Indonesia. Negeri yang kerap kita khawatirkan semakin radikal dan anti-kebinekaan ini tetap mampu merayakan hidup apa adanya. Via dan Nella yang tetap berpakaian sopan dan tanpa perlu mengumbar goyang erotis adalah ikon dan paradoks modernitas itu sendiri. Ketika keduanya hendak dibenturkan atau dianggap pesaing Ayu Ting Ting – ala manuver politisi Jakarta, mereka memilih terus bernyanyi dan menikmati hidup.

Mereka adalah titik di mana kita diajak menertawakan masa lalu kita sekaligus menghitung masa depan. Rakyat punya standar moralnya sendiri yang tak butuh dipandu dan diatur, apalagi dinilai. Mereka tak galak apalagi rusuh dan onar. Lirik-lirik dangdut pun setia membatasi diri pada tema cinta dan nestapa. Dalam era pencapaian teknologi yang sedemikian maju, dangdut adalah potongan masa lalu yang menyelinap dan menjadi cermin segala kecanggihan, faktisitas atau keterlemparan manusia di dunia yang ironis.

Karena ketika Via dan Nella yang sopan justru berasal dari Jawa Timur dengan tradisi pesisir yang lugas, sebaliknya Jogja yang dikenal berbudaya adiluhung melahirkan pedangdut seperti Titis Yolanda, Nia Jovanka, dan  Uut Selly. Itulah dangdut. Itulah potongan tentang Indonesia. Itulah undangan merayakan kehidupan, tanpa ‘tedeng aling-aling’.

Terima kasih Jogja, karena berkat perjalanan ini saya mengenal Nella Kharisma, Via Vallen, dan semakin yakin Indonesia masih akan tetap ada. Lantaran waktu tak pernah maju, ia hanya berputar memungut dan memutar masa lalu, dan kita merasa baru. Jangan pernah merasa tua, terlalu muda, atau ketinggalan….

Penulis: Yustinus Prastowo

Penyunting: AKD

Foto diambil dari: okedangdut.com

COMMENTS