Saya dan Agama

Saya dan Agama
Presiden Belasungkawa untuk 100 Tenaga Medis yang Wafat
Tiga Kawasan Ekonomi Khusus Baru: Singhasari, Kendal, dan Likupang

Saya tidak pernah belajar mengaji sewaktu kecil. Malah tiga tahun terakhir dari Sekolah Dasar (dulu disebut Sekolah Rakyat) saya di sekolah Katolik. Tetapi saya selalu menyukuri nikmat Islam yang dikaruniakan oleh Allah SWT.

 

 

Citra Islam

 

Saya ingat, awal Agustus 2003, ketika saya berada di Toronto, Canada, menghadiri kongres psikologi, sebuah bom meledak di Hotel JW Marriot, Jakarta, dan beberapa orang yang tak berdosa menjadi korban. Saya kaget, sekaligus merasa ngeri! Saya teringat Bom Bali I tahun 2002 yang meminta korban lebih dari 200 orang. Lebih ngeri lagi, sesudah Marriot, masih ada lagi Bom Kedutaan Australia (2004) dan Bom Bali II (2005). Bahkan sebelum 2002 pun bom telah berledakan di Indonesia, yaitu bom Kedutaan Philipina (2000), dan bom Plaza Atrium dan bom malam Natal (2001). Jadi sejak tahun 2000 sampai 2005 setiap tahun Indonesia dibom. Untunglah polisi Indonesia, sedikit demi sedikit bisa membongkar jaringan pembom itu (yang ternyata dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiah, yang melalui jalur Philipina, Malaysia dan Afghanistan, ada hubungannya dengan Al Qaeda dan Osama bin Laden), sehingga tahun 2006 dan 2007 Indonesia bebas bom dan terus begitu sampai naskah ini saya tulis. Mudah-mudahan akan tetap begitu untuk seterusnya .

Dari sudut bom-boman ini, Indonesia harus bersyukur, karena nasibnya jauh lebih baik daripada Irak, apalagi Palestina dan Israel, dimana bom-bom terus berletupan hampir setiap minggu, bahkan hampir setiap hari, sampai hari ini. Padahal tentara Amerika Serikat sudah menyerbu dengan segala teknologinya, dan lebih dari seribu serdadu mereka sudah tewas di sana (Irak). Terus sampai kapan kekerasan akan berlaku di sana?

Tetapi bukan hanya di Timur Tengah ada kekerasan. Kekerasan dalam bentuk bukan bom, masih terjadi sampai hari ini di Indonesia. Saya ingat tahun 1996 Rengasdengklok rusuh. Bakar-bakaran gereja, hanya gara-gara seorang nenek Cina menegur pemuda-pemuda kampung yang berisik di masjid sebelah rumahnya. Pada tahun yang sama, Tasikmalaya juga rusuh. Gara-garanya seorang murid pesantren dipukul ustadnya. Bapaknya si santri, kebetulan polisi. Dia balik balas pukul Pak Ustad. Maka kerusuhan pun meledak. Anehnya, yang bikin masalah polisi, tetapi yang dibakar dan dikejar gereja dan Cina.

Masih ada lagi, seorang mahasiswa saya di PTIK, melaporkan dalam makalahnya bahwa ketika ia bertugas di Ternate di masa kerusuhan (1999), ia dan pasukannya berusaha mengamankan sebuah kapal Pelni yang hendak dibajak untuk membawa gerombolan jihad ke Halmahera. Karena Kapten kapal menolak, maka gerombolan itu menebas kepala dua orang penumpang yang kebetulan beragama Kristen. Polisi yang hanya satu regu tidak berdaya, sehingga akhirnya kapal pun dilepas bertolak menuju Halmahera dengan membawa gerombolan jihad yang sudah beringas dan haus darah.

Ngeri sekali. Tetapi kengerian itu tak berhenti sampai di situ. Di sebuah masjid dekat rumah saya di kawasan jalan Pasar Minggu, pada hari-hari tertentu ada pertemuan besar. Mungkin ada ulama yang berkhotbah. Yang hadir ratusan, kebanyakan pemuda-pemuda berjenggot atau pun tanpa jenggot (yang jenggotnya belum mau tumbuh), mereka berbaju putih-putih, bertopi putih, dengan kain hijau atau kotak-kotak hitam-putih atau merah-putih tersampir di bahu, atau kadang juga dijadikan ikat kepala. Suasana langsung mencekam, dan lalu lintas macet (otomatis pengendara jalan pelan-pelan, tak mau bikin gara-gara). Begitu acara selesai, mereka langsung menaiki sepeda motor (puluhan) dan truk-truk terbuka yang sudah disiapkan, dan dengan membawa bendera hijau berkibar-kibar, mereka meluncur entah kemana. Baru keesokan harinya saya menonton berita di tivi bahwa mereka mendatangi tempat-tempat tertentu (restoran, karaoke atau sejenisnya) yang mereka anggap maksiat, dan menggempur tempat-tempat itu dengan kayu atau batu, sehingga rusak total.

Nah, kelakuan-kelakuan seperti inilah yang membuat saya prihatin. Saya prihatin sekali jika Audria nanti harus hidup di tengah masyarakat Indonesia yang penuh kebencian. Apakah Islam mengajarkan kebencian?

Saya memang tidak pernah sekolah agama (tidak seperti anak-anak saya yang lulusan sekolah Al Azhar), bahkan tidak pernah ikut ngaji kalau sore semasa masih kanak-kanak di Tegal (lebih senang latihan orkes), tetapi mau tidak mau, sebagai keturunan Raden Gunawan, aktivis Sarikat Islam yang sejak mahasiswa sampai sekarang harus terlibat dalam mengurus Panti Asuhan Muslimin, saya harus belajar agama. Tuntutan pekerjaan (ceramah, konseling) juga memaksa saya menguasai agama (sering kali saya membantu menyelesaikan masalah-masalah kasus saya dengan mengutip beberapa ayat atau hadis, dan bagi klien yang percaya, itu sangat membantu). Apalagi sejak kami pindah ke Ciputat (1975) sampai hari ini, sejumlah Bapak dan Ibu se-RW Kompleks Dosen UI (tetangga), rutin berdiskusi tentang Islam. Setiap Minggu pagi, ba’da sholat Subuh berjamaah. Dulunya bergantian di rumah-rumah, tetapi akhirnya kami membentuk yayasan dan mendirikan masjid sendiri yang kami namakan “Al Irfan”. Kami bergantian menjadi pembicara tentang topik apa saja, kawan-kawan yang lain menanggapi, dan diakhiri oleh ulasan dari seorang Ustad yang memang kami minta untuk jadi tutor (meminjam istilah akademik). Saya tidak pernah membolos, kecuali kalau sedang ke luar kota atau sakit, karena itulah sekolah agama saya yang sebenarnya.

Masalahnya, dalam mempelajari Islam saya tidak pernah mendapati ajaran Islam yang sadis seperti itu. Jadi ada kesenjangan antara apa yang saya pelajari dengan kenyataan di luar. Baru-baru ini (awal 2008) seorang anggota parlemen dari sebuah partai gurem di Belanda bernama Geert Wilders menyebarkan sebuah film dokumenter pendek (15 menit) tentang kesadisan “Islam” melalui internet. Judul film itu ”Fitna”, dan pada akhir film dia menyimpulkan bahwa “Islam” adalah agama sadis, bahkan bukan agama sama sekali.

Tentu saja film “Fitna” itu mengundang protes, termasuk dari mereka yang non-Islam. Saya pun tidak setuju dengan film itu, karena Islam bagi saya adalah agama yang damai, sejuk dan memberi ruang yang lebar untuk kita berpikir cerdas. Saya pernah membimbing seorang Doktor IAIN (sekarang UIN) yang meneliti tentang emosi dalam ayat-ayat Al Qur’an. Ternyata dia menemukan bahwa Allah pun bisa beremosi melalui wahyu-wahyu-Nya. Memang adakalanya Dia marah, tetapi Dia bisa juga senang, bahagia, cemas. Indah sekali kalau Al Qur’an itu ditekuni maknanya. Sayangnya yang selalu kita dengar hanya teriakan “Allahu Akbar” ketika massa akan menyerbu karaoke atau merobohkan pagar DPR. Inilah yang menyebabkan orang yang daya pikirnya terbatas seperti Geert Wilders mengambil kesimpulan yang salah tentang Islam. Memang kesimpulan dia sangat salah, tetapi perbuatan sebagian dari kita juga kan yang membuat dia berkesimpulan seperti itu?

 

 

Diamalkan Bukan Dihafalkan

 

Dalam diskusi (kami menamakannya usro) Mingguan di masjid Al Irfan, kami sering mambahas mengapa orang Barat  yang kafir lebih maju dan lebih sejahtera ketimbang kita yang sudah bergenerasi-generasi memeluk Islam? Bukankah Allah SWT menjanjikan memberikan Rahmah dan Hidayah kepada kami yang beriman dan bertakwa, bukan kepada mereka?

Kesimpulan kami adalah bahwa mereka memang tidak tahu tentang Islam, tetapi mereka percaya dan mempraktikkan Sunatullah (hukum Allah berupa hukum alam, yang merupakan salah satu rukun iman). Buat orang  Barat, misalnya, mengantri dan berhenti di lampu merah, atau membuang sampah di tempatnya sudah merupakan hal yang otomatis dilakukan. Mahasiswa mengerjakan tugasnya dengan baik dan menyerahkannya pada waktunya (walaupun mereka tidak pernah tahu ayat Al Asr), pedagang tidak menipu timbangan atau hitungan, itu pun sudah standar. Di Barat bunga bank (dalam Islam disebut “Riba” ) hanya sekitar 1-3% per tahun, bahkan adakalanya 0% atau justru si penyimpan uang harus membayar jasa ke bank kalau hendak menabung (apakah masih boleh disebut riba?). Para peneliti meneliti setiap hal secara tuntas, sehingga mereka bisa menemukan mesin uap sampai kloning juga penemuan-penemuan lain yang berharga bagi kemajuan umat manusia.

Di sisi lain, banyak umat Islam yang berbuat melanggar ketentuan Allah atau Sunnatullah itu. Kebiasaan tidak antri, main serobot, buang sampah sembarangan,  terlambat kerja (walau mereka hafal surat Al Asr), tidak menyelesaikan tugas, bahkan menetapkan bunga bank di atas 10% (di Indonesia pernah  sampai 16% semasa Krismon, ini jelas riba), mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan, berhutang tidak membayar, sampai ke korupsi dan maksiat, itulah perilaku sebagian besar dari kita sehari-hari. Sebagai contoh, ketika saya masih dekan Fakultas Psikologi UI, mahasiswa saya pernah mengeluh bahwa mereka sudah lama mengantri di perpustakaan tetapi tidak dilayani. Setelah saya selidiki ternyata pegawai yang bertugas sedang … shalat dhuha. Tentu saja pegawai itu saya tegur.

Tetapi itulah memang pola pikir kita. Inginnya memuja Allah secara maksimal, tetapi kewajiban dengan sesama manusia dilupakan. Kita lebih menghargai sholat dhuha, hafal Al Quran, atau juara Tilawatil Qur’an. Bahkan untuk menjadi Gubernur di Aceh, syaratnya harus pandai membaca Al Qur’an dulu, baru punya program yang bagus, bukan sebaliknya. Di sisi lain kita membiarkan jalanan macet, menyerobot lampu merah, sampah berserakan, ekonomi porak poranda dengan bunga bank yang sangat tinggi, dibentuk BAZIS (Badan Amil Zakat, Infaq dan Sedekah) sampai tingkat nasional, tetapi kemiskinan tetap tidak teratasi, tidak mau antri, menyontek, beli ijasah palsu, maksiat dan KKN terus terjadi. Pasalnya, banyak dari mereka yang menyatakan diri sebagai pembela Islam justru melakukan sendiri hal-hal tak terpuji itu, walau secara sembunyi-sembunyi tentunya.

Di tahun 1980an. Pernah seorang anggota DPR dari fraksi PPP yang sangat keras menentang pasal tentang aborsi dalam RUU Kesehatan, datang ke tempat praktek saya. Beliau memohon-mohon agar kandungan di luar nikah dari anak perempuannya boleh diaborsi. Beliau dirujuk kepada saya oleh dokter kandungan dan secara teknis memang masih mungkin diaborsi dengan selamat, akan tetapi dokter itu memerlukan inform consent (persetujuan dari yang bersangkutan dan keluarga), dan prosedurnya di klinik tempat saya berpraktek ketika itu, dalam kasus aborsi inform consent harus didahului dengan konseling dengan psikolog.

Akhir ceritera kasus ini tidak penting. Tetapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa menjalankan hukum Islam dalam praktek jauh lebih sulit ketimbang membahasnya di DPR, atau mendiskusikannya dalam seminar, apalagi sekedar mengkhotbahkannya di masjid atau majelis taklim.

Sementara itu kita tahu bahwa Islam mengajarkan habblum minallah (hubungan dengan Allah) dan habblum minnanas (hubungan dengan sesama manusia) sama pentingnya. Bahkan menurut saya sholat itu bukan sekedar habblun minallah untuk menyembah Allah (kalau itu namanya “sembahyang”, yang merupakan gabungan dari kata “sembah” dan “Hyang”, artinya “yang Maha Kuasa”). Sholat diperintahkan Allah agar kita selalu ingat untuk kembali ke jalan yang benar, lima kali sehari. Kalau antara subuh dan dhuhur kita khilaf, alpa, lupa dan sebagainya, kita ingatkan diri kita sendiri, dan mengucapkan dalam sholat “ikhdinas shirathal mustaqim” (kembalikan aku ke jalan yang benar). Maka sesudah sholat dhuhur perilaku kita harus diluruskan lagi, jangan diulang kesalahan yang tadi. Demikian pun lepas sholat asar, kita perbaiki perilaku kita pasca dhuhur sampai asar, dan demikian seterusnya. Singkatnya sholat itu ujung-ujungnya ya untuk habblun minnanas juga.

Sama halnya dengan puasa. Bangsa Indonesia yang mayoritas muslim berpuasa setiap tahun. Sebetulnya selepas puasa kelakuan kita sebagai perorangan maupun sebagai bangsa seharusnya “naik kelas”, menjadi lebih baik, lebih rajin, lebih tekun, lebih profesional, mengurangi maksiat dan KKN dll. Pokoknya amal ma’ruf nahi mungkar (amalkan kebaikan, jauhi kemungkaran). Tetapi setelah 64 tahun merdeka (umur RI setahun lebih muda dari umur saya) kita malah tertinggal dari Malaysia (dulu pernah kita “ganyang”), Korea Selatan (tahun 1950 masih perang), Vietnam (1974 masih perang), apalagi Jepang (1945 hancur total karena dibom). Kemana saja sholat dan puasa kita?

Sholat, puasa dan lain-lain kewajiban dan larangan Allah, sering kita sebut sebagai perilaku agamawi (religius), sedangkan kebiasaan antri, membuang sampah, tepat waktu dan lain-lain dianggap duniawi, atau sekuler. Sekuler dianggap terpisah dari religi, bahkan bertentangan. Negara termasuk sekuler, Pancasila juga. Karena itu harus diganti dengan Syariat Islam.

Padahal sebenarnya Allah menciptakan Islam itu ya untuk mengatur kehidupan manusia di alam sekuler itulah. Planet-planet di langit tidak saling bertabrakan, daya tarik bumi, sampai kepada proses kelahiran dan kematian manusia, semuanya diatur oleh Allah SWT. Perintah Allah “iqro”  bukan hanya ditujukan kepada Muhammad SAW dan umatnya untuk membaca Al Qur’an, tetapi juga membaca Sunatullah yang bernama alam dan kehidupan. Rasullulah dan para sahabat melakukan perintah itu dengan baik, sehingga selama beberapa abad setelah Rasullah wafat umat Islam menjadi umat yang termaju di dunia, baik dari segi politik, ekonomi, sosial dan ilmu pengetahuan. Tetapi sesudah itu, umat Islam mulai berebut kekuasaan dan membela kepentingannya masing-masing. Golongan Syiah dan Sunni bertempur sampai hari ini. NU dan Muhamadiyah di Indonesia kerap tidak akur. Bahkan di kalangan warga nahdiyin tidak cukup satu partai PKB saja untuk mewakili mereka. Perlu banyak partai, bahkan PKB pun terpecah-pecah. Motivasinya: kekuasaan.

Masalahnya sebagian dari orang Islam ini merasa bahwa kalau perlu kekuasaan itu direbut dengan kekerasan. Itulah yang dilakukan oleh kaum Taliban di Afghanistan. Mereka adalah murid-murid pesantren dari Afghanistan Selatan, yang semula bersama mujahiddin (pejuang Islam) Afghanistan yang lain bertempur melawan penjajah Rusia. Tetapi setelah Rusia terusir (dengan bantuan AS), kaum Taliban ini ingin menguasai sendiri Afghanistan. Mereka pikir modal ilmu Al Quran dan hadist (yang memang hanya itu yang mereka lakukan setiap hari), lebih dari cukup untuk mengatur negara, karena Al Quran sudah lengkap, memuat segala-galanya. Tidak mengherankan jika pemerintahan Taliban justru membuat rakyat Afghanistan makin menderita .

Yang membuat saya prihatin, anti ini anti itu seringkali dilakukan dengan kekerasan. Bukankah keberagaman itu sudah ada sejak jaman dulu? Mengapa selalu yang merasa besar (dalam jumlah) lalu berusaha menyingkirkan yang kecil? Bukankah semua berawal dari yang kecil? Rasullulah sendiri muncul dari sekte kecil di tengah-tengah kelompok kafir Quraisy di masa Jahiliyah. Seperti juga dalam agama Kristen, Protestan adalah sempalan dari agama Katolik. Mulanya kecil tetapi sekarang sudah menjadi sangat besar. Islam sendiri sebenarnya mengajarkan kita saling menghargai agama orang lain dan bahwa Allah itu menciptakan manusia beragam-ragam, berjenis-jenis, dan bergolongan-golongan.

Belakangan ini gaya tertutup, eksklusif juga muncul di kampus-kampus. Semua sama-sama menganggap kelompoknya eksklusif, padahal semua agama seharusnya inklusif (terbuka). Mahasiswa baru yang minim pengetahuan agamanya didekati untuk diajari Islam yang eksklusif ini. Celakanya karena mereka di rumah juga tidak diajarkan menghargai keberagaman, maka yang mereka kenal hanya hitam-putih. Di luar itu, salah! Saya pikir-pikir, kalau begini, apa bedanya Islam dengan Amerika? George Bush, presiden AS, bilang, semua yang tidak berkawan dengan Amerika adalah musuh Amerika. Tetapi kata Osama bin Laden  (yang ditiru persis sama oleh Abu Bakar Baasyir dari Ngruki), semua orang Amerika kafir, thogut. Terus apa bedanya antara Bush dan Osama?

 

 

Allah Selalu Berada di Dekat Saya

 

Itulah yang selalu saya rasakan. Hidup saya bukannya mulus belaka. Saya pernah sakit keras sekali, saya pernah mengalami masalah keluarga, pernah terhambat dalam karir, bahkan pernah mobil saya hampir dibakar massa dalam kerusuhan Malari 1974. Tetapi ujung-ujungnya semua, sejauh ini, berakhir dengan baik. Kami sekeluarga (termasuk keluarga besar, Sarwono) semua dalam keadaan sehat-walafiat (ini yang terpenting) , anak-anak saya cerdas-cerdas dan cukup berhasil dalam karirnya. Audria yang tanggal lahirnya persis sama dengan saya, 2 Februari, tumbuh jadi anak yang pandai dan cekatan. Insya Allah cucu-cucu lain juga akan sama hebatnya seperti Audria. Saya sudah pernah pergi ke hampir seluruh dunia; (dari Alaska di Kutub Utara sampai Wellington di Kutub Selatan, dari Kairo di Timur Tengah, Beijing di Timur Jauh sampai New York di Barat) dan seluruh Nusantara (dari Sabang di ujung Barat sampai Jayapura di ujung Tumur, dan dari Manado di Utara sampai Kupang di Selatan), secara ekonomi saya selalu berkecukupan, walaupun tidak berlebihan (termasuk semasa Krismon) , saya pun cukup dikenal orang (bahkan kadang dianggap sebagai selebriti oleh media massa), karir sudah mencapai puncak (Guru Besar, Golongan IV/E, tidak ada lagi pangkat pegawai negeri sipil yang lebih tinggi), pernah menjadi guru besar tamu di tiga universitas luar negeri, pernah mendapat berbagai penghargaan dari berbagai organisasi dan pemerintah, pernah bersalaman dengan semua presiden RI (yang ini tidak terlalu penting) dan masih banyak lagi. Terus mau apalagi? Pokoknya semua nikmat Allah yang bisa saya bayangkan di dunia ini sudah diberikan oleh-Nya kepada saya. Karena itu saya selalu menyukuri nikmat Islam yang dikaruniakan oleh Allah SWT. Karena Allah tidak pernah ingkar janji pada saya.

Tetapi Islam yang saya lihat sekarang sangat berbeda dari yang saya alami semasa kecil dan remaja. Dulu semasa saya masih di SMP (tegal) dan SMA (Bogor), rasanya tidak pernah saya melihat wanita berkerudung rapat-rapat, pemuda-pemuda berjanggut dan bercelana cekak, pria dan wanita tidak mau saling bersalaman. Dulu rasanya kok biasa-biasa saja. Nikah antar agama pun dibolehkan. Karena itu, separuh dari keluarga isteri saya adalah pemeluk Kristen yang taat, sementara kami sekeluarga menganut Islam. Ibu isteri saya enam bersaudara, dua di antaranya (termasuk mertua saya itu, Ibu Harmeni Soedijono) memilih Islam, sementara yang lain tetap Kristen. Generasi kedua ada pula yang kawin campur, sehingga sekarang sudah sampai generasi keempat. Keluarga besar istri saya dari garis ibu, keluarga besar Harjokusumo, jadinya terdiri dari campuran Islam dan Kristen.

Walaupun begitu kami tetap santai dan akrab saja. Kalau Lebaran yang Kristen berkumpul di rumah yang Islam untuk makan ketupat, sedangkan kalau Natal, yang Islam ke rumah yang Kristen untuk makan lontong sayur dan bakso kuah. Senang sekali melihat kami masih sehat-sehat, anak-anak dan cucu tumbuh, lulus sekolah, menikah, lahir bayi baru, sekolah lagi dan seterusnya. Kesempatan Lebaran dan Natal selalu merupakan ajang ketawa-ketiwi keluarga, dari pagi sampai sore. Tidak ada masalah agama antar kami, bahkan ketika ada yang berkelakar tentang agama, kami semua tertawa tergelak-gelak.

Mungkin zaman sekarang yang berkerudung dan berjanggut itulah Islam yang benar. Tetapi ketika “kebenaran” harus dipaksakan kepada orang lain, apakah masih kebenaran juga namanya? Saya ingat satu peristiwa ketika anak saya (Dimas) masih kecil. Saat itu ia ulang tahun. Ibunya membawakan kue dengan lilin-lilin untuk ditiup di sekolah. Tetapi anak saya pulang dengan kecewa karena gurunya mengatakan meniup lilin adalah perbuatan orang kafir. Contoh lain, seorang anak SMA, dibawa ke saya oleh ayahnya yang dosen Trisakti. Dia baru ditangkap polisi karena terlibat penyerangan Pos Polisi di Bandung. Tetapi oleh polisi dikembalikan ke orangtua, karena masih di bawah umur. Ternyata anak itu bergabung dengan salah satu kelompok ekstrim Islam yang mau mendirikan negara Islam. Ketika saya wawancara, anak itu mengatakan bahwa ia tidak mengakui orangtuanya lagi, karena orangtuanya tidak bisa mengaji dan tetap makan dengan sendok-garpu, padahal sebagai Muslim seharusnya makan pakai tangan sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasul… Astagfirullah la’adziimm…

Lebih bingung lagi saya jika saya memikirkan mengapa justru di zamannya orang sudah banyak yang berkerudung dan berjanggut (Alhamdullilah), justru seakan korupsi makin merajalela (termasuk di Departemen Agama), dan kekerasan makin menjadi-jadi. Tak mengherankan kalau ada yang berpendapat bahwa “agama” telah gagal menyejahterakan manusia. Itulah kalau agama tidak dipraktikkan, tetapi hanya dibaca dan digunakan untuk mencari pahala sebanyak-banyaknya untuk diri masing-masing saja. Saya pernah sholat berjamaah di Kairo (dengan orang-orang Arab), di Birmingham (di mesjid Pakistan), di San Fransisco (dengan mahasiswa Timur Tengah), dan tentu saja di Mekkah dan Medinah semasa umroh (1980) dan Haji (1995), dan saya melihat sendiri bahwa cara mereka bersholat sangat beragam. Alangkah sedihnya saya karena kita di Indonesia masih terus berdebat apakah do’a qunut  boleh dilakukan, apakah boleh kita berdo’a di makam, kapan jatuhnya Idul Fitri, bahkan apakah waktu kita duduk tahiyat dalam sholat, seharusnya jari telunjuk kita digerak-gerakkan atau harus tetap tegak lurus. Alamaaak…. (kata orang Malaysia), macam mana kita masih diskusi soal begituan (dalam agama disebut khilafiyah, bukan masalah pokok), sementara dunia sudah bicara tentang biogas, pemanasan global, travelling ke bulan dan sebagainya? Kata Naga Bonar, “Apa kata dunia?”

 

Penulis: Sarlito Wirawan Sarwono

Tulisan ini dimuat atas izin keluarga mendiang Prof Ito.

COMMENTS