CITA Menilai RAPBN 2018 Moderat, Walau Perlu Kerja Keras

CITA Menilai RAPBN 2018 Moderat, Walau Perlu Kerja Keras
Sebelum Lebaran, Penerima Bansos Tunai (BST) Capai 7,8 Juta Keluarga
Guna Pembangunan SDM, PUPR Rampungkan Lab dan Bengkel Politeknik Negeri Padang

Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) mengapresiasi Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018 yang disusun dengan bijaksana. CITA menjabarkan target-target dalam RAPBN 2018 sangat moderat, walau harus tetap optismistis dan kredibel.

Melalui Direktur Eksekutifnya, Yustinus Prastowo, CITA menilai akan adanya tanda-tanda yang baik untuk kendali pengelolaan perekonomian nasional, khususnya kebijakan fiskal berkesinambungan dan sehat.

Yustinus juga mengatakan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen di tahun 2018, pemerintah harus bekerja lebih keras. Hal ini tak lepas dari pertumbuhan ekonomi di kuartal I dan II tahun 2017 yang mengalami stagnasi di 5,01 persen.

“Ini menjadi pertanda baik bagi kendali pengelolaan perekonomian nasional, khususnya kebijakan fiskal yang berkesinambungan dan sehat,” jelasnya dalam diskusi RAPBN 2018 di Jakarta, Selasa (22/08/17).

“Dalam RAPBN 2018 pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi menjadi 5,4%. Tentunya, untuk mencapai target pertumbuhan tersebut pemerintah harus berkerja lebih keras,” tambahnya.

Teruntuk target penerimaan pajak dalam RAPBN 2018 juga dinilai cukup realistis dan moderat, meski tetap menunjukkan optimisme yang cukup tinggi. Bila dibandingkan dengan target pajak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 yang naik sembilan persen, maka target penerimaan pajak RAPBN 2018 meningkat menjadi 21 persen dari proyeksi (yang dilakukan oleh CITA) penerimaan pajak 2017.

CITA memproyeksikan bahwa penerimaan pajak di tahun 2017 akan berkisar Rp1.094,88 triliun hingga Rp1.169,86 triliun, atau 85,3 hingga 91,14 persen dari target penerimaan pemerintah per Juli 2017.

“Proyeksi ini didasari oleh kinerja penerimaan per Juli 2017 yang meskipun menunjukkan kenaikan, akan tetapi belum memuaskan. Di periode tersebut kinerja penerimaan pajak y.o.y. mencapai 12,47 persen. Namun, kinerja tersebut sudah termasuk penerimaan dari program amnesti pajak (Periode III Januari-Maret 2017),” jelasnya.

Target paling berat untuk dicapai dalam RAPBN 2018 terjadi dalam sektor penerimaan PPh Non-Migas. Pasalnya, target mengalami peningkatan sebesar 29,39 persen, atau sekitar Rp816,99 triliun, bila dibandingkan dengan proyeksi realisasi penerimaan PPh Non-Migas di tahun 2017.

“Di tahun 2017 sendiri, kami memproyeksikan penerimaan PPh Non-Migas hanya mencapai Rp631,4 triliun atau 85,07 persen dari target. Proyeksi ini didasari kinerja penerimaan PPh Non-Migas tahun 2017 yang lebih rendah dari tiga tahun sebelumnya,” ungkap Yustinus.

“Hal ini dipengaruhi oleh ‘belum optimalnya’ tindak lanjut data amnesti pajak yang masih menunggu diterbitkannya Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Pasal 18 UU Pengampunan Pajak,” tuturnya.

Berbeda dengan PPh Non-Migas, target peneriman Pajak Pertambahan Nilan (PPN) dianggap lebih realistis, yakni sebesar Rp535,3 triliun pada RAPBN 2018. Dibandingkan dengan proyeksi realisasi penerimaan PPN 2017, target penerimaan PPN dalam RAPBN 2018 meningkat 13,7 persen.

Begitu pula dengan penerimaan Cukai dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dianggap realistis dalam RAPBN 2018. Dalam hal ini, pemerintah tampak mempertimbangkan kondisi Industri Hasil Tembakau (IHT), karena terlihat dari peningkatan proyeksi sebesar 3,73 persen dari realisasi proyek 2017 di angka Rp149,81 triliun.

Sementara itu, target belanja negara dalam RAPBN 2018 mengalami peningkatan sebesar 6,35 hingga 14,48 persen dari proyeksi realisasi 2017. CITA menilai target ini sangat optimistis jika dibandingkan dengan realisasi 2017.

“Menurut kami target ini masih terlalu optimistis. Jika dibandingkan dengan realisasi 2017, realisasi belanja negara per Juni baru mencapai pertumbuhan 3,23 persen y.o.y. Dengan angka tersebut, kami memproyeksikan skenario pesimis realisasi belanja negara mencapai 91,45 persen dari target, atau tumbuh 14,48 persen dibandingkan RAPBN 2018,” tuturnya menjelaskan.

Sedangkan anggaran dalam RAPBN 2018 mengalami penurunan sebesar Rp22,56 triliun, menjadi Rp325,93 triliun. Sebelumnya, target defisit anggaran APBN-P 2017 adalah Rp348,49 triliun, yang berarti mengalami penurunan sebesar 2,67 persen.

Bila dibandingkan dengan proyeksi realisasi 2017, target defisit menjadi menurun ke angka Rp71,47 triliun dan Rp146,45 triliun. Hal ini dianggap akan menciptakan dilema karena menekan angka defisit anggaran.

“Menekan angka defisit anggaran ini pada akhirnya akan menciptakan dilema. Jika pemerintah mengerem realiasi belanja demi mengurangi defisit, maka berpotensi terjadi pelamahan pertumbuhan ekonomi dan penerimaan perpajakan yang pada akhirnya tidak mampu mengurangi defisit anggaran,” ujarnya.

Di sini, CITA meminta kepada masyarakat untuk mendukung komitmen pemerintah dalam membangun perekonomian Indonesia. Namun, pemerintah pun harus melakukan optimalisasi penerimaan negara dengan sesegera mungkin menuntaskan revisi UU Perpajakan, yang terbangun dengan sistem perpajakan berkeadilan dan berkepastian hukum.

Selain itu juga mampu mengoptimalisasikan akses fiskus ke perbankan dan institusi keuangan lainnya berdasarkan Perppu No 1/2017, termasuk penerapan compliance Risk Management.

“Dilanjutkan dengan mengefektifkan kerja sama internasional, baik multilateral instrument (MLI) maupun AEoI, serta simplikasi prosedur perpajakan, termasuk pelaporan, pembayaran, penyelesaian pemeriksaan, dan sengketa perpajakan, meningkatkan pengawasan di lapangan dalam rangka ekstensifikasi perpajakan dengan indikator capaian yang terukur,& tutup Yustinus.

Penulis: Yustinus Prastowo

Editor: CBAS

Tulisan ini pernah dimuat di Metrotvnews pada Selasa, 22 Agustus 2017 (http://ekonomi.metrotvnews.com/makro/ybJeglBN-rapbn-2018-moderat-tapi-perlu-kerja-ekstra), dan CITA pada Rabu, 23 Agustus 2017 (http://www.cita.or.id/citax/cita-rapbn-2018-cukup-moderat-namun-perlu-kerja-keras)

 

COMMENTS